The Recruit 2012 – An Invitation, Calling for the best & brightest students and recent graduates out there!

Why settle for ordinary when you can nail one with finesse, fun and in style?

If that’s the kind of internship program you’re looking for, one where you get to do the actual work, The Recruit 2012 is definitely the one for you.  

Why and what is this The Recruit all about?

The Recruit 2012 is an internship program unlike any other. It is designed in a competition format where applicants must undergo three rounds of selection process before finally earning a spot as intern. The program will run for approximately 3 months where interns are assigned to different team of clients. At the end of the program, the best intern will stand a chance to a full time position at Maverick.  

 I’m sure many would ask, why would I go all the trouble just to earn a spot for an internship program? Give me a good reason.” Allow me to give you five:

  1. How many of you complain or have been hearing complaints about lousy internship programs? Your friends didn’t learn much about anything except making copies, picking up the phones or be told to be ushers during events with no proper briefing? These are exactly what we’re aiming to avoid. Here at Maverick, we take our interns seriously. No matter where interns are assigned, they will be properly guided and supervised. Even if and when they’re assigned as ushers or guest reception, interns will have be briefed on how to address guests, who to escorts, what to give, how to properly respond to questions, and who to approach when they’re clueless about something.
  2. Remember I mentioned a full time position? Once the program is over, Maverick will offer a full time position as an Account Coordinator. This is part of the reason why we need you to undergo selection rounds, because we want to meet those individuals who are not only young and vibrant but also skillful and passionate about this industry.
  3. One of our credo is creativity is the cornerstone of every successful communications program. Then we’d like you to show us how creative you are!  
  4. Explore the excitement of meeting new people. You’ll have the opportunity to meet with prominent people from the industry, not to mention the media, digital and social media, as well as offline and online communities.
  5. The chance to attend some of the coolest and creative events we handle; and so much more!

My boss once said “Don’t just do things because you have to do it. Think about it as well”. He was right. It feels rewarding when you do things not just for the sake of doing it. It gives you the chance to grow, and be appreciated.

So, do you believe you have what it takes? Here’s our  official video invitation to join The Recruit 2012.

The application is good until 22 September 2012. Until then, please feel free to email me should you have further questions or you can directly ask me when I visit some campuses with our ambassadors to distribute the invite. Be sure to follow our Twitter account and join our Facebook page to know which campus we’ll visit and when. 

 Good luck!  

Internship season is about to start!

Perhaps many would agree, it’s quite difficult for university students nowadays in finding an organization that will take them seriously during an internship program – where they come to work not just to make copies or coffee for that matter. On the other hand, there are organizations that are actually looking forward to have interns. However, they are faced with difficulties to find those who are not only academically outstanding, but also versatile enough to keep up with the fast pace of the real working world.  The way we look at it, having good grades are certainly necessary, but on top of that; we are really looking forward to meet those dynamic, passionate, well-versed, creative individuals, and of course, with the right attitude.

Now, if we told you we have something fun and interesting coming your way, are you up for the challenge? 

This year, Maverick is offering a – 3 month- internship program, a project we call The Recruit 2012. The program is intended for final year students and fresh graduates out there. And the best part about the program, you will stand a chance to be offered a full time position as an Account Coordinator.

While we’re finalizing all the details, The Recruit 2012 will be launched officially in August. We will publish the complete information on our website and Facebook Page. We’ll be visiting some campuses too! Feel free to follow our Twitter account – @mavtweets, to make sure you’re not missing out on anything.

You have the entire holiday to articulate your creativity, in the mean time, feel free to contact me via email to nia@maverick.co.id, or via telephone at +6221 727 898 33 if you need further info.

Be ready to send us your most creative application!

Jurnalisme Investigatif di tengah Kepungan Social Media

Meningkatnya beragam aktivitas di dunia online, seolah-olah menenggelamkan peranan media tradisional yang selama ini menjadi panduan bagi khalayak dalam mencari informasi. Betapa tidak, dunia online, terutama social media mampu menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh media tradisional: kemudahan serta kecepatan mengakses informasi.

Belakangan, beberapa negara di dunia, termasuk negara besar seperti Amerika Serikat panik ketika mengetahui data-data paling rahasia mereka dapat diakses oleh publik melalui situs Wikileaks.

Indonesia tidak luput dari “serangan”. Kabel diplomasi kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta bocor. Bocoran itu diunggah di situs Wikileaks. Diantara ribuan korespondensi itu, terdapat cerita mengenai skandal-skandal yang dilakukan tokoh politik Indonesia. Presiden, ibu negara, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan tokoh lain disebut-sebut melakukan beberapa skandal. Yang terakhir adalah berita yang dimuat oleh media Australia, The Age, dari hasil informasi yang muncul di Wikileaks dengan judul Yudhoyono ”abused power”.

Dalam diskusi publik bertajuk “Indonesia Dikepung Skandal, Apakabar Jurnalisme Investigatif?” yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2011, tiga tokoh jurnalistik Indonesia, Atmakusumah Astraatmadja, jurnalis senior, Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Metta Dharmasaputra, jurnalis Tempo, sepakat bahwa data-data yang muncul di Wikileaks hanyalah informasi-informasi mentah yang masih perlu diverifikasi lagi kebenarannya. Untuk itu, mereka menyesalkan media sebesar The Age dapat menerbitkan artikel hanya berdasarkan informasi dari Wikileaks semata.

Melihat kenyataan ini, sebenarnya ada sebuah celah yang dapat dimanfaatkan oleh media tradisional untuk dapat bersaing dengan informasi yang disampaikan melalui social media.

Berbeda dengan social media yang menekankan kecepatan informasi dan (seringkali) tidak memverifikasi fakta, media tradisional memiliki senjata ampuh untuk merebut perhatian khalayak dengan apa yang disebut sebagai jurnalisme investigatif, atau peliputan penyidikan, mengutip istilah Atmakusumah.

Dengan informasi yang ada di social media, persepsi publik mudah terdistorsi untuk hal-hal yang belum tentu kebenarannya dan disinilah kesempatan bagi media untuk berani meluruskan informasi tersebut, ujar Metta, sambil menambahkan bahwa disinilah peran jurnalisme investigatif seharusnya bermain.

Mendukung pernyataan Metta, Nezar mengatakan bahwa informasi-informasi yang muncul di social media, termasuk juga seperti yang muncul di Wikileaks, merupakan data mentah dan inilah kesempatan bagi media untuk menelusuri informasi-informasi tersebut dan menjadikannya sebuah tulisan yang dapat menguak hal-hal yang selama ini tertutup dari mata publik. Inilah kekuatan dari jurnalisme investigatif.

Sayangnya, tidak semua media mampu melakukan jurnalisme investigatif. Selain membutuhkan waktu peliputan yang panjang dan keahlian khusus bagi jurnalisnya, tidak sedikit jenis peliputan ini membutuhkan biaya yang besar dan mengancam nyawa jurnalis yang melakukan peliputan. Alasan-alasan inilah yang kemudian menutup mata media dari kenyataan akan banyaknya skandal yang ada di depan mata, menunggu untuk dikuak.

Bayangkan, jika semua media berani mengungkap skandal-skandal yang ada di negeri ini, pastinya informasi-informasi tersebut sangat berguna untuk membuka mata publik akan kejadian yang sebenarnya terjadi. Bayangkan juga berapa kasus yang dapat dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya jika berhasil terungkap. Bayangkan berapa nyawa dan harta yang dapat terselamatkan jika skandal-skandal tersebut berhasil diungkap.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya sekadar membayangkan dan mulai memikirkan kasus apa yang akan diungkap esok.

Mummy-Blogger Dilirik Pemasang Iklan

Ada artikel menarik yang diturunkan Jennifer Howze di The Times hari ini. Isinya sudah bisa ditebak dari judulnya: Mummy bloggers know best: Companies are rushing to sponsor the increasingly popular blogs that offer tips on parenting.

Times

Seiring dengan meningkatnya pemahaman pelaku bisnis terhadap geliat new media, para Netizens pun kemudian banyak mendapat kesempatan yang tidak mereka dapatkan sebelumnya: mulai dari undangan menjadi pembicara seminar, menjadi live-reporter yang melakukan update melalui new media tools di berbagai acara, ajakan meliput peluncuran produk, tawaran menjadi duta sebuah brand tertentu, sampai permintaan sebuah perusahaan untuk memasang iklan di blog/situs pribadi.

Di Inggris, blog-blog yang bicara mengenai kehidupan para ibu beserta serba-serbi di sekitarnya (termasuk tentang pengasuhan anak) tengah booming dan berada di bawah sorotan lampu. Perusahaan-perusahaan mulai menyasar kaum ibu karena mempertimbangkan bahwa kaum ibu-lah yang biasanya mengatur keuangan rumah tangga dan mengambil keputusan akan belanja harian. Adalah Susanna Scott yang kemudian mendirikan British Mummy Bloggers, untuk membantu mempertemukan para pemasang iklan dan konsultan PR dengan kaum ibu yang rajin nge-blog.

Mummy Bloggers

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

Ada cukup banyak kaum ibu yang terkenal wara-wiri di ranah blog Indonesia, termasuk di antaranya Mbok Venus, Lita Mariana, Neng Jeni, Chichi Utami, dan lain-lain. Blog Istri Bawel-nya Ninit Yunita pun sudah dihiasi dengan beberapa banner menyerupai iklan di sisi kanannya; termasuk dari Bumwear, toko popok yang berpusat di Singapura.

picture-416

Siapa menyusul selanjutnya?

Blog Sudah Mati?

By: Waraney

Blog sudah mati? Lha belum sempat aktif, kok sudah mati? Pertanyaan ini yang muncul di kepala saya tadi pagi saat melihat-lihat daftar artikel yang belum sempat terbaca di fasilitas add-on Read It Later yang terpasang di browser Firefox. Artikel tersebut ditulis oleh Andrew Keen dalam blog The Great Seduction yang berjudul “Blogs Are Dead, Long Live the Blog”.

Blogs are dead, long live the blog

Ternyata yang dimaksudkan Keen adalah, walaupun di satu sisi ‘blog boleh dianggap sudah mati’, namun di sisi lain blog juga ‘panjang umur’. Artinya, fungsi blog sudah berubah. Bukan lagi sekedar media publikasi untuk pikiran-pikiran pribadi yang cenderung bersifat teks statis, melainkan jadi real-time publishing platform. Atau, seperti yang dinyatakan oleh Matt Mullenweg, pendiri WordPress, “Blogs will become aggregation points. They will become our personal hubs. Places where we store all our personal media content such as our Flickr photos and Twitter posts.”

Dana Theus dari Social Media Today merespons artikel tersebut dengan tulisan yang berjudul “Blogs are Dead. So what?”, dimana ia menganggap  bahwa perubahan yang diungkap Keen tersebut sebagai sesuatu yang baik. Menurutnya, pergeseran paradigma dalam social media selama ini bukan hanya memungkinkan ekspresi terhadap hal-hal yang bersifat pribadi, tapi juga mengakibatkan terlalu banyak hal-hal tak penting yang dipublikasikan dalam format blog. Hal-hal ini sekarang bisa lebih terfasilitasi dalam fasilitas-fasilitas seperti Facebook dan Twitter, yang disebutnya “statusphere”.

Blogs are dead. So what?

Saya tidak setuju dengan pendapat Theus soal mana yang penting dan tak penting, dan melihat dari komentar-komentar pedas yang masuk ke halaman blog-nya, agaknya cukup banyak orang yang sependapat dengan saya. Tapi soal itu mungkin bisa dibahas dalam tulisan lain. Yang menarik bagi saya adalah perubahan yang selama ini saya rasakan terjadi di dunia online dalam lingkaran contacts saya, ternyata juga dirasakan oleh para pelaku di luar sana. Walaupun mungkin dengan sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi  yang berbeda.

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan Hanny dan Adit tentang sejumlah blogger kondang yang mulai jarang menulis di blog mereka. Kami bertanya-tanya, kenapa ya, bisa begitu. Kebetulan, tak berapa lama kemudian dagdigdug menanyakan hal yang kurang lebih sama melalui thread Plurk-nya.

plurk thread dagdigdug tentang blogger lama yang hiatus

Saya bukan blogger kondang, tapi mau tak mau diskusi dengan Hanny dan Adit, serta pertanyaan di thread itu mengingatkan bahwa saya sudah lama tak memperbaharui isi blog-blog saya di Multiply dan WordPress. Lucunya, jawaban-jawaban buat pertanyaan dagdigdug tadi hampir semuanya sama dengan alasan kenapa saya sudah lama tak blogging. Pertama, karena sedang kehabisan ide. Kedua, sibuk bekerja. Ketiga, sibuk microblogging (dengan Twitter) dan social networking (dengan Facebook).

Alasan pertama dan kedua sangat berkaitan erat. Kesibukan kerja dan job-description yang mengharuskan saya mengurusi blog Maverick dan Anugerah Adiwarta Sampoerna, serta tugas-tugas untuk klien, menghabiskan tenaga dan simpanan ide-ide kreatif saya. Menulis tentang hal-hal yang sederhana dan pribadi tiba-tiba menjadi sulit.

Untuk alasan yang ketiga, karena Twitter dan Facebook menolong saya untuk mengatasi writer’s block dan kehilangan ide-ide kreatif. Fasilitas sinkronisasi status Twitter antara dengan Facebook memudahkan saya untuk menuangkan pikiran-pikiran singkat, link-link menarik, dan berdiskusi dengan teman-teman online. Widget yang tersedia di WordPress dan Blogger (tempat blog saya yang lainnya) memungkinkan saya menambahkan Twitter, Plurk, dan bahkan Friendfeed, serta Flickr ke dalam blog-blog saya.

Status updates yang terus-menerus masuk ke halaman blog mengurangi perasaan bersalah karena jarang membuat tulisan yang mendalam dan berisi. Lucunya, tanpa harus rajin menulis, blog saya pelan-pelan berubah fungsi jadi real-time broadcasting platform. Blog-blog saya sudah berada di ambang kematian. Moga-moga seperti phoenix mereka akan bangkit dan jadi lebih cantik.

Bagaimana dengan Anda? Apakah kesibukan kerja menyulitkan Anda untuk rajin memperbaharui isi blog? Sejauh manakah pengaruh microblogging (Twitter, Plurk, Koprol, dll) serta social networking (Facebook, MySpace, dll) terhadap aktivitas blogging Anda?

“Google Aja di Kaskus!”

by: Hanny

Kemarin sore, saya sempat berbincang-bincang melalui telepon dengan seorang staff konsultan di Ditjen HKI (Hak Kekayaan Intelektual), dan mendapatkan informasi yang cukup menarik. Bapak yang baik itu berkata, “Mbak, kata ‘blogger’ itu sudah terdaftar lho, di sini…”

Saya terkejut, mengira bahwa ‘blogger’ adalah kata generik sehingga tidak bisa didaftarkan. “Terdaftar atas nama siapa, Pak?”

Blogger—” demikian terdengar suara dari seberang di telinga saya.
“Apa? Kok terdaftarnya atas nama blogger? Nama pendaftarnya itu siapa, Pak?” tanya saya bingung.
Grogol..
“Hah? Apa, Pak? Siapa?”
Gogol, Mbak…”

Dan saya pun baru menyadari apa yang dimaksud si Bapak, kemudian langsung menepuk jidat sambil terkekeh. Ternyata yang dimaksud si Bapak adalah Google.

Google

Setelah menutup telepon, saya berpikir, apa iya, kata ‘blogger’ terdaftar di bawah nama Google, Inc.? Mungkin karena Google yang menciptakan Blogspot dan dengan demikian melahirkan pula istilah blogger? Benarkah hal ini? Ada yang bisa mengkonfirmasi? Jika benar kata ‘blogger’ sudah terdaftar, apakah ini berarti para pengguna WordPress harus berhenti menyebut diri sebagai blogger dan mulai memakai istilah WordPresser?

Ataukah mau tak mau memang kata blogger sudah menjadi sedemikian generik, sehingga bisa digunakan oleh siapapun, baik yang nge-blog di WordPress, Multiply, Blogsome, sampai Friendster sekalipun?

Hal ini kemudian membuat saya teringat cerita lucu seorang teman beberapa hari yang lalu mengenai sebuah percakapan yang dibacanya di sebuah situs pertemanan:

X: “Eh, kalau mau nyari info soal film-film baru di mana, ya?”
Y: “Google aja di Kaskus….”

(Jika Anda adalah seseorang yang bergelut di dunia Internet dan browsing tiap hari, Anda pasti mengerti kelucuan pernyataan di atas.)

Maka, perlukah Google berbangga hati (atas Yahoo!) karena kata ‘Google’ sekarang  sudah hampir bersinonim dengan kata ‘cari‘? Karena bukannya tidak mungkin sebentar lagi kita akan mendengar komentar-komentar lain seputar pencarian kunci mobil yang tiba-tiba raib, semacam ‘Google-aja-di-tas-lo’ atau ‘Coba-Google-dulu-di-kolong-mobil’.

Nonplussed by a+


This is the third month that a+ magazine arrived late in our office. The March edition was not delivered until yesterday. Someone from the magazine’s circulation department admitted that there was a printing and delivery problem. He apologized for the late delivery, and promised to send the April edition on time.

The editorial team has also put an apology note in the letters to the editor section, saying that ‘an internal technical problem and new courier service issue’ as the cause of the delay.

Apology accepted, and we’re glad that our copy finally arrived safely. After all, Maverick is a faithful subscriber of the magazine. However, that does not stop us from wondering why. I checked the magazine’s website and was surprised to see the ‘minimalist’ look they have there.  I asked a friend’s opinion and she commented, “What, is that a website or a name card?” The front page, or ‘Cover’, shows this.

A+

The ‘Cover’ was not even the magazine’s latest issue’s cover. I clicked ‘Backstage’, hoping for behind the scenes fashion photo shoots, and this is what I got:

a+
I can already guess what I’m going to find in ‘Contact’ but decided to put more faith, and clicked the button, only to find this:
a+

I have nothing against brevity. After all, Maverick’s own website boasts only one page of information. But the message in our website is clear, if a potential client is interested, give us a call to meet and talk, otherwise you’re just wasting our time. Is that what a+ is trying to say? Dear readers, if you’re interested, go and buy our magazine, otherwise you’re just wasting our money?

If that’s the case, how come I got the strongest feeling that no one will actually be interested enough to go and find the magazine in the newsstand after they checked out that website?

Today, more conventional media are joining the conversation in the new media. They are also focusing more efforts to tap the benefits that the new medium has to offer. Some even went so far as moving most of their contents online. You can basically read almost, if not more, content in Wired‘s website than in its print version. The same goes to The New Yorker. One can practically gaze Bar Refaeli‘s latest swimsuit pictures in Sports Illustrated‘s swimsuit edition page without ever having to touch the actual magazine.

Seth Godin wrote a great piece on how the old media could improve themselves and tap into the new media. Out of the six insights he offered there, a+ could use at least the number #2, “leverage op-ed and spread important ideas”.

from Seth Godin's "Watching the Times struggle (and what you can learn)"

I personally stopped buying a+ and other magazines more than a year ago because I could find more content online. There are tons of quality fashion blogs out there to fulfill my occasional fashion fix (on the days when I fantasize about wearing anything else from black).  The Sartorialist and Garance Doré are just a few among them. No less than 14 fashion blogs faithfully supply my Google Reader. These blogs provide personal voices and insights that I could not find in a conventional fashion/lifestyle magazine such as a+.

If a+ chose to put more content into its website because it does not want to lose subscribers, why not set up a blog network consisting of its current and former contributors? All of them supplying online readers with up to date content on how to ‘celebrate life tastefully and in style’. It doesn’t even have to be the same content as in the print edition.

Wouldn’t be nice if we could check out a+‘s behind the scene photoshoots, or read more from the magazine’s fashion writers? A few years ago, I enjoyed Edo Wallad and Mikael Johani‘s occasional writings in the magazine. I also followed Karin Wijaya‘s carreer move from fashion and travel contributor, assistant stylist, and finally to fashion stylist. (Disclaimer: Mikael Johani is currently working in Maverick as a part-time editor, while Edo Wallad and Karin Wijaya are both the writer’s friends).

Imagine how much readers can get from such a network, and how much advertising a+ could get.

I wouldn’t even have to worry about the print version’s late delivery.

Politically Incorrect

by: Hanny

The 2009 General elections are around the corner and candidates have saturated streets and public spaces with their posters, many of which have little to do with image building or with taste. Casting a critical eye on all these electoral capers is movie director Mirwan Suwarso and his colleague Amien Krisna, who’s set up a satirical website called Jangan Bikin Malu 2009: Penerangan di tengah Bualan [Don't Embarrass 2009: Enlightenment in the midst of Fabrication].

picture-29

Launched in the 1st week of February, the site  highlights the tasteless (and some downright silly electoral posters) of candidates from 38 Indonesian political parties.

Anyone can contribute to the site by sending ideas, photos or videos, and actively participating in the site’s vote-page and rank the most-humiliating election posters here.

While thinking further on how you’d like to contribute to this blog, you can also enjoy a series of satirical short-movies from award-winning actor Tio Pakusadewo and his “GEMBELTAI” party, as well as a video clip contribution from popular hip-hop group Saykoji, featuring Ras Muhamad. They are performing a song entitled “Sesungguhnya”—reflecting their own critical view on Indonesia’s general elections and the quality of future leaders.

Wondering how political parties would utilize their new media strategy in response to this.

Oh, anyway, Happy Birthday to Mirwan! February 18, and this posting is dedicated to you!

© Copyright Maverick Indonesia - Theme by Pexeto