47% of Indonesian Journalists are Active Contributors in Social Media – Technographics Survey Report 2013

logo-technographic2013

The growth of social media in Indonesia has been overwhelming. Their core function has somewhat shifted. Corporates and brands are starting to realize the true potential of social media as a vehicle to communicate their message to their stakeholders. Doubtful at first, media houses now too begin to embrace the utilization of social media.

In partnership with the Communications Department of Paramadina University, Maverick conducts the 3rd Technographics survey of Indonesian journalist in attempt to find out the answers behind one of the most intriguing questions we had in the back of our mind: is social media actually THAT powerful it can even influence mainstream media’s agenda setting? How much does it affect mainstream media in producing news?

Read More»

The dangers of being a little pregnant when it comes to social media

Before you read more of this article, let me ask you a simple question: does your company use social media as part of its communications mix?

Most of you would say yes. After all, social media usage is on the rise, particularly in Indonesia. We are now the second largest Facebook nation in the world with about 39 million users. We are also the world’s third largest generator of Tweets. A day hardly goes by without news of a group or a social movement making good use of social media to reach thousands or millions of constituents.

The use of social media has become so prevalent and fashionable that most companies have to have a presence in one or more social platforms. Which leads me to my next question: how seriously do you take social media?

This is an important question as many companies have been burnt because of their “only a little pregnant” approach when it comes to social media. It may be a virtual world but the rules of pregnancy still prevail when it comes to social media. You are either pregnant or not. You either social media with full respect or it can turn around and bite you.

According to the latest study conducted by Altimeter Group, a research-based advisory firm headquartered in California, companies are quick to deploy the latest social media technology, yet most have not prepared for the threat of social media crises, or long-term effects on business – and suffer because of this.

The study was conducted through an online survey of 144 social business program managers at corporations with more than 1,000 employees, 63 interviews or briefings with corporate practitioners and social business software, service, and solutions providers, and analysis of over 50 social media crises from 2001 to present.

The firm defined a social media crisis as one that arises from, or is amplified by, social media, and results in negative mainstream media coverage, a change in business process, or financial loss.

The study further revealed that based on more than 50 crisis cases between 2001 to 2011, social media crises primarily stem from the exposure of poor customer experiences, poor influencer relations, or violations of ethical guidelines with the most fragile industries being consumer goods, followed by apparel and fashion, restaurant, internet, retail and airline.

What surprised me was the rising number of crises resulting from social media activities. Last year, the firm recorded 10 social media crisis cases, while during the first eight months of 2011, six crises have already occurred. It suggests that companies must start to think how they should prepare themselves to handle a social media crisis rather than simply joining the euphoria over these modern platforms.

So, what makes companies vulnerable to social media crises?

According to the study, while companies have been quick to deploy Facebook fan pages or Twitter accounts, they often ignore the complexities of social business. Long-term success in social media requires adequate preparation. For the corporation, this involves a realignment of roles, policies, processes, and more – it’s a transformation of the enterprise into a social business.

At the very least, a company needs a social media policy that protects the company and employees. A social media policy dictates acceptable employee behavior in social channels, safeguarding the company against legal risks raised when employees represent the brand in public. Typically, such a policy includes guidelines on disclosure and confidentiality, especially for personal usage of social media.

Furthermore, the policy should also encourage employee ownership. A company should not only dictate to its employees about disclosure or confidentiality, it should instead empower employees to use social media professionally.

As much as 83 percent of the 144 companies surveyed, have formalized an internal social media policy. Of Advanced companies, all 18 have such a policy in place. For example, Cisco instructs employees not to disclose any information that is “confidential or proprietary to the company,” while Ford reminds employees to “make it clear that the views expressed are yours.”

But having a social media policy is the first step toward inoculating a company from the likelihood of social media crisis. The next thing they need to consider is how to ramp up their capability and systems to enable them to respond rapidly and in a coordinated manner should a crisis strike.

Of companies with a formalized crisis response plan in place, 96% feel prepared for a social media crisis; of those without a plan, only 22% indicate preparedness. Furthermore, most Advanced companies (13 out of 18) believe that their teams and employees are prepared and know what to do in the event of a social media crisis.

So which is your company when it comes to social media and crisis preparedness? Pregnant or little pregnant?

 

Branded Entertainment: Menjadikan Brand Bagian dari Sebuah Cerita

Tidak ada yang tidak tahu film James Bond. Film mengenai pria yang bekerja sebagai mata-mata dengan kode nama 007 ini sangat legendaris dan selalu membuat penonton terpana. Sepanjang film, penonton akan dibuat tercengang oleh setidaknya tiga hal: kecerdikan si 007, para Bond’s girls serta kecanggihan teknologi dari alat-alat yang digunakannya. Salah satu yang selalu menarik perhatian saya adalah kecanggihan mobil-mobilnya. Saya tidak terlalu mengerti tentang otomotif. Tapi… kecanggihan dan ke-keren-an mobil-mobil yang ada di film James Bond selalu mampu mambuat saya terperangah.

Sangat lekat di ingatan saya, di salah satu film James Bond Quantum of Solace, ada adegan di mana James Bond mengendarai mobilnya dengan sangat cepat karena sedang dikejar oleh musuh. Melihat mulusnya mobil tersebut, saya sendiri nggak sampai hati melihat mobil itu dibuat kebut-kebutan. Selama adegan berlangsung, saya bertanya dalam hati, “Ada yaa, mobil sekeren dan secanggih ini? Ini mobil apa yaa?” Akhirnya rasa penasaran terjawab juga saat sekilas terlihat logo Aston Martin. Ternyata, Aston Martin (dan juga BMW, Mercedes Benz, Ford, Bentley, dan lain-lain) menggunakan kesempatan ini untuk memasarkan produknya. Logo Aston Martin memang hanya muncul sekilas, tetapi kesan ‘keren dan canggih’ yang ditinggalkan membekas lama di benak penonton. This is called branded entertainment (BE)!

Topik inilah yang dibawakan oleh Purwanto Hassan dan Titis Sapto dari Movieholic Production, saat memenuhi undangan Maverick, Jumat, 20 Mei lalu, untuk mengisi sharing session yang kami selenggarakan setiap seminggu sekali. Mereka adalah dua orang kreatif yang mengkhususkan diri untuk membuat BE bagi perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan. Sekilas BE terdengar baru di telinga. Saya pun baru mendengar tentang hal ini beberapa bulan lalu saat menghadiri acara networking di mana Titis dan Purwanto merupakan pembicaranya. Di Indonesia sendiri, BE memang belum banyak digunakan sebagai salah satu marketing tools. Tidak sedikit brand yang masih menggantungkan kegiatan pemasarannya pada iklan. Dan untuk berbagai macam alasan, iklan masih dipertahankan sebagai post expense yang cukup besar, walaupun tidak sedikit pula yang mulai beralih ke jenis marketing tools lain yang lebih murah dan tidak kalah efektif.

Purwanto dan Titis, yang memang sudah bertahun-tahun bergelut di industri kreatif, mulai melirik BE sebagai lahan yang menjanjikan. Tidak banyak production house atau agensi iklan dan perusahaan yang menyadari, bahwa orang sudah mulai jenuh dengan semakin banyaknya iklan yang ditayangkan tiap harinya. “Belanja iklan perusahaan memang masih tinggi, tapi permintaan konsumen akan jenis strategi pemasaran yang berbeda juga cukup tinggi. Mereka jenuh melihat iklan yang straight forward dan cenderung hard-selling,” ujar Titis. “Saat ini, banyak konsumen lebih senang melihat iklan yang memiliki jalan cerita, dibandingkan dengan iklan produk yang jelas-jelas melakukan ‘jualan.’ Di sinilah kami masuk dengan BE sebagai solusinya,” tambah Purwanto.

Branded entertainment tidak sama dengan brand placement maupun iklan. BE adalah entertainment yang memiliki jalan cerita. Dalam hal ini, cerita yang dihasilkan akan disesuaikan dengan atribut-atribut brand yang bersangkutan dan merupakan refleksi dari karakter brand tersebut. Dijelaskan lebih lanjut oleh Purwanto, “Dalam BE, brand atau produk tidak akan terlihat secara eksplisit seperti pada iklan. Yang menjadi fokus pada BE adalah jalan cerita yang disesuaikan dengan karakter brand tersebut.” “Tujuan utama BE memang bukan menjual, tetapi lebih kepada menciptakan dan meningkatkan awareness konsumen akan brand tersebut. Oleh karena itulah jalan ceritanya perlu dibuat semenarik mungkin, sehingga orang akan tertarik untuk menyaksikan dan menyebarkannya dengan berbagai cara,” tambah Titis.

Lalu bagaimana dengan penggunaan BE di Indonesia? Menurut saya, BE akan menjadi alternatif marketing tools yang menjanjikan dan efektif. Tidak hanya karena biaya produksi yang jauh lebih murah daripada produksi iklan, tetapi juga karena tingginya penetrasi penggunaan social media di Indonesia. Hal ini membuat BE memiliki masa depan yang cerah. Kenapa demikian? Karena BE akan semakin mudah di-share kepada banyak pihak tanpa perlu menambah biaya produksi. Twitter, Facebook, dan Youtube memungkinkan brand menciptakan brand awareness yang lebih engaging dengan konsumen, terutama melalui jalan cerita yang menarik dan tidak membosankan. Melalui social media channels ini, brand juga dapat memantau respon yang diberikan konsumen, baik itu terhadap produk yang ‘dijual’ maupun brand image itu sendiri. Efektif, bukan?

LSM dan Social Media: Bercerita dan Bukan Sekedar Memberitakan

Kamis, 28 April lalu, Maverick kembali disambangi oleh rekan-rekan LSM dari  Borneo Orangutan Survival (BOS), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), serta Yayasan Pelita Ilmu (YPI).  Mereka kembali mengikuti program Catalyst, sebuah program probono dari Maverick sebagai upaya untuk melakukan transfer of knowledge dan membantu meningkatkan kapasitas komunikasi LSM di Indonesia. Di luar kebiasaan, sesi yang seharusnya usai pukul 5.30 sore, kali ini molor hingga satu jam.  Ini tentu berkaitan dengan serunya topik sore itu:  Bagaimana social media menjadi semakin penting bagi LSM dalam menyuarakan pesan-pesannya.

Kita semua menyadari bahwa, lembaga non-profit merupakan tempat berkumpulnya orang dengan visi yang sama untuk membuat perbedaan nyata di masyarakat. Banyak metode untuk menyuarakan visi dari lembaga non-profit seperti dengan menyebarkan pamflet, melakukan demonstrasi, membuka forum dan diskusi. Tidak hanya menyuarakan pendapatnya, LSM juga perlu dukungan dari simpatisannya, baik itu berupa dukungan suara maupun donasi. Kini, dengan 45 juta pengguna internet dan 31 juta pengguna Facebook di Indonesia*, apa yang bisa dilakukan LSM di social media agar visi dan tujuannya tercapai dengan lebih efektif dan efisien? Bagaimana social media bisa menjadi wadah yang tepat bagi LSM untuk menjaring pendukung maupun donasi?

“Melalui social media seperti Facebook dan Twitter sebenarnya sangat mudah bagi  LSM untuk mengenali kelompok-kelompok maupun mengikuti percakapan yang sesuai dengan apa yang menjadi kepedulian mereka,” jelas Hanny Kusumawati, Head of New Media Division Maverick, yang sore itu menjadi narasumber di sesi Catalyst.

Selanjutnya, berdasarkan informasi tersebut, LSM dapat memetakan siapa saja yang memiliki kepedulian yang sama serta apa saja permasalahan yang ada.  Langkah berikutnya, bisa jadi diskusi yang terjadi di online dibawa ke offline dan kemudian diwujudkan menjadi sebuah program nyata.

Intinya, internet dan social media merupakan ranah tempat bertemunya mereka yang memiliki dana (perusahaan maupun individual), ide dan pemikiran (LSM dan individual yang memiliki kepedulian), serta energi untuk mengimplementasikan sebuah program (relawan, mahasiswa).  Bila LSM dapat menemukan dan mempertemukan mereka, tentu upaya untuk mewujudkan sebuah idealisme akan lebih mudah dicapai.

Dalam obrolannya sore itu, Hanny juga menekankan, bahwa social media berkaitan erat dengan interaktivitas.  Karenanya, saat kita berkomunikasi melalui blog, Facebook maupun Twitter; lakukanlah seolah kita sedang menulis sebuah cerita – bukan sekedar menulis berita.  LSM tentunya memiliki banyak cerita yang dapat menyentuh hati dan perhatian: seorang anak yang tidak memiliki sepatu namun harus berjalan 10 km setiap hari untuk mencapai sekolahnya; bayi orang utan yang dipisahkan dari induknya untuk dijadikan hewan peliharaan di balik tembok tinggi; atau bagaimana seorang ibu yang berjuang melawan maut saat melahirkan bayi ke-enamnya.  kejadian yang diceritakan dengan baik – bukan sekedar diberitakan – akan menarik perhatian dan menyentuh hati banyak orang.  A good story can touch a lot of people, being passed on, and lasts for a long time. Inilah peluang yang harus dimanfaatkan LSM dalam kegiatan social media-nya.

Efektifitas social media dalam mendukung kegiatan LSM sepertinya merupakan hal yang melatarbelakangi fakta yang terungkap dari sebuah survei yang dilakukan oleh Non Profit Social Network tahun 2011**. Dari hasil survei tersebut, didapati bahwa 75% LSM menggunakan social media (Facebook, Twitter, LinkedIn, Youtube) untuk menjalin komunikasi dan menarik dukungan dari simpatisan dan aktifis. Dalam survei, ini juga disebutkan bahwa social media sangat berguna untuk membangun citra sebuah LSM, sehingga mendapat respon positif dari masyarakat.

Manfaat berkomunikasi melalui social media ternyata juga sudah dirasakan oleh BOS, sebuah lembaga non-profit untuk penyelamatan orang utan di Kalimantan. “Sejak mempunyai akun Facebook dan Twitter, kami banyak menerima permintaan untuk adopsi orang utan,” jelas Paulina Wijanarko dari yayasan BOS. Ia menambahkan, “Tidak hanya orang Indonesia yang mengadopsi orang utan, tetapi juga dari luar negeri.”

Peserta lain, Veriyadi dari PKBN mengatakan, “Sesi pelatihan ini membuka mata kami terhadap pentingnya social media dalam menjaring relawan, simpatisan, bahkan calon donor. Kami juga dapat menginformasikan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan dan hak-hak reproduksi.” Hal ini diamini oleh Rini dari YPI yang menyebutkan, bahwa social media kini telah menjadi salah satu medium komunikasi yang dapat menjembatani hubungan LSM dengan para konstituennya.

Catalyst sendiri sudah menjadi program rutin Maverick sejak tahun 2005. Hingga kini, sudah lebih dari 15 LSM berkesempatan untuk mengikutinya.  Melalui program ini, Maverick berharap LSM peserta Catalyst dapat mengkomunikasikan program-program mereka dengan lebih strategis dan tepat sasaran. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai Catalyst, silakan menghubungi Referika dan Dini melalui e-mail di referika@maverick.co.id dan dini@maverick.co.id.

* Indonesia merupakan pengguna Facebook terbesar kedua seluruh dunia (Facebaker.com,2010)

** Survey tentang LSM dan social media. Sebanyak 11.196 LSM kecil, menengah, hingga besar berpartisipasi dalam survei ini sebagai responden.

Mungkinkah Social Media Bubar?

Saat ini social media sudah menjadi kebutuhan yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan banyak orang, terutama bagi 36.000.000 masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan internet dalam berbagai kesempatan (Data Telkom Indonesia). Mereka yang memiliki ponsel dengan koneksi internet, hampir dapat dipastikan memulai harinya dengan menulis update status di Twitter, bahkan sebelum sempat meletakkan kakinya dilantai.

Melihat kenyataan tersebut, ditambah dengan opini mayoritas bahwa social media memiliki kekuatan luar biasa ­­­– perannya dalam kasus Prita Mulyasari, penggalangan dukungan untuk Bibit-Chandra,  hingga kasus Alanda Kariza, dan terakhir dipercaya sebagai katalisator dalam revolusi mesir – muncul pertanyaan, mungkinkah social media bubar?

The Law of Diminishing Return mengatakan, bahwa kebutuhan yang secara terus menerus dipenuhi akan mengalami penurunan tingkat kepuasan. Berhubung Facebook, Twitter dan mayoritas social media lainnya bersifat gratis; ini berarti kebutuhan tersebut akan selalu terpenuhi. Untuk itu, tidak lama lagi mereka akan….

Baik-baik saja…dan bertambah baik. Kenapa demikian?

  1. Manusia lahir untuk interaktif. Siapa yang tidak? (setidaknya dengan orang-orang terdekat).  Social media menyediakan medium bagi setiap penggunanya untuk saling berinterkasi kapanpun dan dimanapun. Sejak dulu, telepon dan SMS sudah menyediakan hal ini, tapi Facebook, Twitter, dan mayoritas social media lainnya  hadir secara gratis bagi siapapun tanpa harus khawatir tagihan yang membeludak.
  2. Semua bisa bersuara.  Social media telah membuat perubahan besar. Dahulu, setiap orang harus bersaing ketat membuat karya yang disukai media massa agar dapat dimuat. Sekarang, siapapun dapat mengungkapkan apapun, kapanpun, dan dilihat oleh siapapun termasuk oleh para jurnalis. Siapa yang pernah menyangka tulisan Alanda Kariza dalam blognya membuat kasus persidangan Ibundanya diliput berbagai media konvensional. Inilah yang menjadikan social media menjadi semakin dibutukan dan digunakan oleh banyak pihak.
  3. Didukung oleh 645.000.0000 tim kreatif dan akan terus bertambah (Joel Comm, Twitter Power 2.0). Siapa mereka? Mereka adalah akumulasi pengguna Facebook dan Twitter. Jumlah itu belum ditambah dengan pengguna MySpace yang tidak jauh berbeda dari Facebook, serta social media lainnya. Hukum ekonomi di atas berlaku jika kebutuhan dipenuhi secara terus menerus dengan komoditas yang sama. Dengan setiap penggunanya yang berperan sebagai tim kreatif, social media tidak akan pernah menjadi komoditas yang sama setiap harinya, bahkan setiap detiknya.
  4. Tren dan budaya diciptakan oleh para pengguna social media. Narsisistik, Korean Wave, hingga Justin Bieber adalah beberapa contohnya. Tren dan budaya ini tidak berlaku di dalamnya saja, namun menjadi keseharian para pengguna yang kemudian mempengaruhi mereka yang bahkan tidak menggunakannya. Singkat kata, bagi sebagian besar orang, mengetahui dan mengikut tren adalah hal yang penting. Jika tren ada di social media, maka disitulah mereka berada.
  5. Kebebasan adalah kebutuhan primer. Revolusi di Mesir memuncak salah satunya karena pemblokiran internet. Rumah Sakit Omni mencapai krisisnya karena menuntut Prita yang bercerita tentang keluhannya. Masyarakat sangat nyaman dengan kebebasan informasi yang disediakan oleh social media. Masyarakat akan mempertahankan kebebasannya, masyarakat akan mempertahankan social media.

Jadi; pada saat seseorang, organisasi atau perusahaan bertanya “apa pentingnya menggunakan social media?” lima hal di atas dapat menjadi jawaban sekaligus bahan renungan untuk menentukan kembali apa yang akan dilakukan di era 2.0 sekarang ini. Bagaimana menurut Anda?

Jurnalisme Investigatif di tengah Kepungan Social Media

Meningkatnya beragam aktivitas di dunia online, seolah-olah menenggelamkan peranan media tradisional yang selama ini menjadi panduan bagi khalayak dalam mencari informasi. Betapa tidak, dunia online, terutama social media mampu menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh media tradisional: kemudahan serta kecepatan mengakses informasi.

Belakangan, beberapa negara di dunia, termasuk negara besar seperti Amerika Serikat panik ketika mengetahui data-data paling rahasia mereka dapat diakses oleh publik melalui situs Wikileaks.

Indonesia tidak luput dari “serangan”. Kabel diplomasi kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta bocor. Bocoran itu diunggah di situs Wikileaks. Diantara ribuan korespondensi itu, terdapat cerita mengenai skandal-skandal yang dilakukan tokoh politik Indonesia. Presiden, ibu negara, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan tokoh lain disebut-sebut melakukan beberapa skandal. Yang terakhir adalah berita yang dimuat oleh media Australia, The Age, dari hasil informasi yang muncul di Wikileaks dengan judul Yudhoyono ”abused power”.

Dalam diskusi publik bertajuk “Indonesia Dikepung Skandal, Apakabar Jurnalisme Investigatif?” yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2011, tiga tokoh jurnalistik Indonesia, Atmakusumah Astraatmadja, jurnalis senior, Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Metta Dharmasaputra, jurnalis Tempo, sepakat bahwa data-data yang muncul di Wikileaks hanyalah informasi-informasi mentah yang masih perlu diverifikasi lagi kebenarannya. Untuk itu, mereka menyesalkan media sebesar The Age dapat menerbitkan artikel hanya berdasarkan informasi dari Wikileaks semata.

Melihat kenyataan ini, sebenarnya ada sebuah celah yang dapat dimanfaatkan oleh media tradisional untuk dapat bersaing dengan informasi yang disampaikan melalui social media.

Berbeda dengan social media yang menekankan kecepatan informasi dan (seringkali) tidak memverifikasi fakta, media tradisional memiliki senjata ampuh untuk merebut perhatian khalayak dengan apa yang disebut sebagai jurnalisme investigatif, atau peliputan penyidikan, mengutip istilah Atmakusumah.

Dengan informasi yang ada di social media, persepsi publik mudah terdistorsi untuk hal-hal yang belum tentu kebenarannya dan disinilah kesempatan bagi media untuk berani meluruskan informasi tersebut, ujar Metta, sambil menambahkan bahwa disinilah peran jurnalisme investigatif seharusnya bermain.

Mendukung pernyataan Metta, Nezar mengatakan bahwa informasi-informasi yang muncul di social media, termasuk juga seperti yang muncul di Wikileaks, merupakan data mentah dan inilah kesempatan bagi media untuk menelusuri informasi-informasi tersebut dan menjadikannya sebuah tulisan yang dapat menguak hal-hal yang selama ini tertutup dari mata publik. Inilah kekuatan dari jurnalisme investigatif.

Sayangnya, tidak semua media mampu melakukan jurnalisme investigatif. Selain membutuhkan waktu peliputan yang panjang dan keahlian khusus bagi jurnalisnya, tidak sedikit jenis peliputan ini membutuhkan biaya yang besar dan mengancam nyawa jurnalis yang melakukan peliputan. Alasan-alasan inilah yang kemudian menutup mata media dari kenyataan akan banyaknya skandal yang ada di depan mata, menunggu untuk dikuak.

Bayangkan, jika semua media berani mengungkap skandal-skandal yang ada di negeri ini, pastinya informasi-informasi tersebut sangat berguna untuk membuka mata publik akan kejadian yang sebenarnya terjadi. Bayangkan juga berapa kasus yang dapat dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya jika berhasil terungkap. Bayangkan berapa nyawa dan harta yang dapat terselamatkan jika skandal-skandal tersebut berhasil diungkap.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya sekadar membayangkan dan mulai memikirkan kasus apa yang akan diungkap esok.

Maverick Berbagi Ide, Kekuatan dan Pengetahuan (Social) Media di PR Vaganza

Selasa lalu (8/3), tim Maverick merasakan kembali euforia berangkat dengan semangat ke kampus. Namun kali ini kami tidak datang pagi-pagi ke Universitas Indonesia – Depok untuk belajar, melainkan untuk terlibat dalam Pekan Komunikasi 2011. Kami antusias sekali ketika diajak berpartisipasi oleh panitia dalam salah satu rangkaian acaranya yang fokus terhadap industri PR, yaitu PR Vaganza. Acara tahunan yang rutin diadakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (HMIK FISIP UI) tersebut tahun ini bertema “You have the ideas, You have the power, You are the media”.

Tidak tanggung-tanggung, kami terlibat dalam tiga runutan acaranya. Pertama, Ong Hock Chuan selaku Technical Advisor Maverick membawakan materi presentasi berjudul “Strategy Above All Else” dalam sesi Seminar PR. Ong yang membawakan presentasi dengan bersemangat kemudian mendapatkan banyak respon dan pertanyaan kritis dari para peserta seminar.

Kedua, kami memberi ijin kepada panitia PR Vaganza untuk mengadakan acara one-off Pecha Kucha Jakarta dengan tema “My Workplace, My Web”. Panitia yang dipimpin oleh Ira Ratna Juwita berhasil mendatangkan 11 praktisi PR untuk melakukan presentasi dengan konsep Pecha Kucha. Presentasi harus dilakukan dalam 20 slides, di mana setiap slide-nya hanya boleh dibawakan selama 20 detik. Dari Maverick, Hanny Kusumawati selaku Creative Director sukses menceritakan serunya bekerja di Maverick dalam waktu 6 menit 40 detik.

Terakhir, Ong kembali terlibat sebagai juri Lomba PR Vaganza bertema: “Crisis Management: Social Media Disaster”. Lomba ini ditujukan untuk mahasiswa komunikasi se-Indonesia untuk saling berkompetisi dalam mengasah kemampuan mereka di bidang crisis management. Kompetisi berjalan cukup ketat, namun Ong dan tim juri memutuskan Universitas Padjajaran sebagai pemenang lomba tersebut.

Maverick berterima kasih kepada panitia Pekan Komunikasi 2011: PR Vaganza yang telah melibatkan kami. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang kami bagikan dapat berguna di masa depan. Kamipun tidak sabar melihat bibit-bibit hebat sebagai praktisi PR lahir dari acara semacam ini. Bravo untuk PR Vaganza!

Terakhir, kamipun mengundang para mahasiswa komunikasi yang ingin terjun untuk bekerja ataupun magang di Maverick untuk mengunjungi Career page kami di http://www.maverick.co.id/maverickquiz/

7 dari 10 Wartawan Indonesia Dapatkan Ide Berita dari Internet

Hari ini, Maverick dan Research Centre The London School of Public Relations Jakarta meluncurkan hasil survey mengenai pola perilaku jurnalis di Indonesia dalam penggunaan social media. Penelitian dilakukan dengan 321 responden valid yang terdiri dari jurnalis, jurnalis foto, dan editor di 141 media, dari bulan Juni hingga September 2010.

Banyak data-data menarik dari penelitian tersebut, yang akan kami publikasikan juga dalam dokumen yang bisa Anda unduh minggu depan. Tetapi beberapa poin menarik yang dari hasil survei tersebut di antaranya:

  • 91% wartawan bergantung pada Internet dalam mencari berita
  • 7 dari 10 wartawan mendapatkan ide membuat berita dari Internet
  • Selain mengunjungi portal berita, sekitar 72.3% wartawan yang menjadi responden mengaku bahwa mereka juga memonitor, mencari, dan/atau mendapatkan informasi melalui jejaring sosial seperti Facebook.
  • 9 dari 10 wartawan di Indonesia memang memiliki akun Facebook,
  • Lebih dari setengahnya juga memiliki akun Twitter.
  • Lebih dari setengahnya juga memiliki blog pribadi, di layanan blogging gratis seperti Blogspot atau WordPress
  • Portal berita yang paling sering diakses wartawan adalah Detik.com dan Kompas.com

Menariknya, penelitian juga mengungkap bahwa hanya 5 dari 10 wartawan yang melakukan verifikasi setelah mendapatkan informasi pemberitaan dari Internet. Bahkan di antara kelompok wartawan yang mengaku selalu melakukan verifikasi terlebih dahulu, sekitar 10% masih melakukan verifikasi tidak langsung lewat Internet: ke situs berita lain, situs web, Wikipedia, bahkan dengan mencari subjek terkait di mesin pencari seperti Google dan Yahoo!.

Hal ini perlu menjadi perhatian perusahaan dalam berkomunikasi. Mereka perlu tahu dan memonitor apa saja yang ada di Internet dan jejaring sosial terkait brand/perusahaan mereka. Jika ada informasi yang salah, keluhan yang tak terselesaikan, isu yang mulai berkembang, perusahaan harus cepat mengambil tindakan dan memberikan respon, sebelum informasi-informasi ini ditemukan oleh wartawan yang sedang mencoba memverifikasi atau mencari berita di Internet.

Keterlibatan wartawan dalam jejaring sosial, dan kenyataan bahwa mereka juga mencari informasi dan ide pemberitaan dari Internet, pelan-pelan memang akan mengubah pola interaksi perusahaan dengan para pencari berita.

Perusahaan kini menghadapi tantangan untuk menjadi bagian dari jaringan sosial para wartawan. Interaksi tak lagi bisa dibatasi lewat konferensi pers atau siaran pers. Jika 7 dari 10 wartawan mendapatkan informasi mereka lewat jejaring sosial, tantangan berikutnya adalah: apakah perusahaan Anda akan muncul di garis waktu (timeline) atau halaman profil mereka?

Perusahaan harus menjadikan dirinya relevan bagi wartawan. Relevansi menjadi mutlak perlu, karena wartawan kini bisa memilih siapa yang akan mereka ‘ikuti’ di Twitter atau mereka jadikan ‘teman’ di jejaring sosial seperti Facebook. Orang-orang yang mereka ikuti dan menjadi teman mereka, otomatis akan menjadi gelembung narasumber yang mengekspos mereka terhadap berbagai informasi. Karena itu, perusahaan tak cukup lagi menggunakan cara lama seperti beriklan atau memberikan promo-promo dalam berinteraksi dengan wartawan di jejaring sosial. Informasi yang relevan menjadi penting.

“Survey ini sangat berguna karena ia menunjukkan besarnya pengaruh Internet dalam pekerjaan wartawan,” kata Technical Advisor Maverick Ong Hock Chuan. ”Hasil survey mendukung gagasan kami bahwa Internet sangat penting bagi wartawan media formal seperti koran/majalah, radio dan televisi. Ini juga membuktikan bahwa bila kita ingin menyampaikan pesan kepada media formal, maka dapat mulai dilakukan melalui jejaring sosial.”

Tunggu hasil lengkap dari survei ini yang akan kami publikasikan minggu depan, ya!

How Much Is Your Thumb Worth?

One way brands have been embracing new media is by holding contests, quizzes and competitions for social media users.

Some actually use the “most-liked” or “most-voted” mechanism to determine the winners. Though lately lots of social media users have been questioning (and some are complaining) about this method, because people can actually cheat by making a hundred of false accounts to increase votes, some brands/companies are still relying on this mechanism to ensure that their campaign can be exposed to as many people as possible.

However, recent development shows that brands/companies might want to find other ways beyond most-liked or most-voted quizzes/competitions. Yes, there are groups and even a ‘business’ page in Facebook that barter, trade, and even sell thumbs for such contests:

One Facebook Page actually set a tariff for those who are entering most-liked contests/competitions. For +1 LIKE, you need to pay IDR 1,000, for +50 LIKE IDR 50,000 (plus a bonus of 5 comments), and so on, and so forth, as can be seen below:

With lots of brands/companies on social media, organizing most-liked/most-voted quizzes/competitions with great prizes, they also need to watch out for quiz hunters and those who are creating hundreds of false profiles for the purposes of winning prizes. In terms of judging mechanism, it is in fact, easier to determine a winner simply by looking at people who got the most likes. And some brands, who are concentrating on quantity, would still think that most-liked and most-voted is the best way to reach as much audience as possible, so they can record huge numbers of participants in their campaign.

However, with the recent development and rising concerns about the ‘fairness’, brands/companies need to find out new mechanism to validate the voters. Or simply, try other ways to do quizzes/competitions that won’t turn into a popularity contest.

4 Faktor Kesuksesan Gantibaju.com

Baru-baru ini saya berbincang dengan Anang Pradipta dan Kristin Amelina dari GantiBaju.com mengenai program GantiBaju dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia  yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2010. Dalam perbincangan tersebut, mereka bercerita kalau GantiBaju mengadakan diskon spesial selama jam tertentu untuk semua pakaian yang dijual di GantiBaju. Twitter adalah medium yang mereka gunakan untuk mensukseskan program itu. Tanpa disangka ternyata sambutan follower GantiBaju sangat baik sehingga dalam beberapa jam baju ludes terjual.

Untuk sebuah toko online, pencapaian ini bisa dibilang sangat baik, apalagi barang yang dijual adalah baju yang notabene biasanya orang harus mencoba terlebih dahulu sebelum membelinya. Kalau begitu kenapa GantiBaju bisa sukses?

Saya pikir ada 4 faktor kesuksesan GantiBaju, yaitu:

1. Menarik. GantiBaju mengurus komunitasnya dengan sungguh-sungguh. Bisnis GantiBaju memang berdasarkan komunitas karena mereka mendapatkan desain-desain kaosnya dari komunitas juga. Baik di website maupun di twitternya, GantiBaju aktif sekali berkomunikasi dengan pelanggannya. Program yang mereka ciptakan juga menarik seperti yang baru-baru ini diadakan adalah acara Buka Baju Bersama di FX. Dan yang paling menarik adalah perlombaan desain kaosnya itu sendiri dimana tiap orang saling berkompetisi untuk menjadi pemenang.

2. Membuat orang senang. Siapa yang tidak senang kalau hasil desainnya dicetak menjadi baju, dipajang di website, dilihat banyak orang, dan mendapat royalti? Tentu senang dan pastinya orang tersebut akan menjadi brand ambassador yang powerful bagi GantiBaju.

3. Kepercayaan. GantiBaju secara transparan membuka hasil voting desain yang akan dicetak. Dan desain yang mendapat suara terbanyaklah yang akan dicetak. GantiBaju juga memiliki toko offline, sehingga orang-orang percaya terhadap kualitas GantiBaju karena mereka bisa mencoba terlebih dahulu sebelum membeli dan ketika masuk ke websitenya untuk membeli secara online, tidak masalah bagi mereka.

4. Nasionalis. Secara emosi, orang-orang Indonesia merasa terikat dengan produk GantiBaju karena desain-desainnya banyak merepresentasikan kekayaan Indonesia. Selain itu, banyak orang asing yang membelinya sebagai oleh-oleh untuk kerabat mereka di negerinya.

Dari semua faktor tersebut bukan tidak mungkin GantiBaju dapat melebarkan sayapnya lebih jauh lagi. Menarik untuk menunggu gebrakan GantiBaju selanjutnya.

© Copyright Maverick Indonesia - Theme by Pexeto