Foto oleh Pixabay

Untuk versi Bahasa Inggris klik di sini

Kabar bohong (hoax) terus beredar di dunia maya dan kian intensif belakangan ini. Disebar dari satu akun ke akun lain, berpindah dari Facebook ke Twitter, Twitter ke grup WhatsApp , informasi yang tak jelas sumbernya itu membayangi aksi demonstrasi besar-besar di kawasan Istana Negara pada 4 November 2016. Namun publik makin waspada.

Unjuk rasa yang diikuti oleh berbagai organisasi massa itu dipicu oleh tuduhan penistaan agama oleh Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok–tuduhan yang masih diselidiki oleh kepolisian.

Beberapa kabar bohong yang beredar di media sosial dalam sebulan terakhir, antara lain akan adanya kerusuhan besar di beberapa titik, seperti seperti di Balai Kota, Monas, Bekasi, Tangerang, dan lainnya.

Pesan yang ini beredar di WhatsApp dan Facebook menyertakan surat berisi arahan wakil komandan Brimob kepada intelijen dan pengamanan internal terkait pengamanan unjuk rasa besar yang rencananya dilakukan 4 November mendatang.

Kepolisian telah mengeluarkan pengumuman di Twitter resmi mereka dan menegaskan kabar tersebut bohong belaka. Akun @DivHumasPolri milik Divisi Humas Polri menyatakan, “Selamat Pagi Mitra Humas,Mohon Tidak Terprovokasi Pesan Berantai Yang Tidak Jelas Asal Usulnya. #Divhumaspolri.”

https://twitter.com/DivHumasPolri/status/793274320801832960

Hoax lain yang beredar adalah salindia (slideshow) presentasi yang seolah-olah dibuat oleh Kapolri Tito Karnavian. Isi presentasi, Tito memerintahkan aparat polisi memeriksa politikus Partai Amanat Nasional Amien Rais terkait dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Kepolisian telah membantah kabar ini.

Akun @AmbarNingsih menyatakan, “Awas berita HOAX! cc: @DivHumasPolri

https://twitter.com/AmbarNingsih/status/789477049580658688

Para pengguna media sosial tampaknya belajar dari masa lalu. Mereka makin mampu membedakan mana informasi yang valid dan hoax. Mereka juga saling mengingatkan lingkaran teman masing-masing agar tak mudah percaya pada semua informasi yang beredar di berbagai kanal media sosial dan aplikasi percakapan, seperti WhatsApp.

Komisaris Telkom Margiyono, pemilik akun @akumegi, menulis, “Awas hoax!”

https://twitter.com/akumegi/status/794358469654548480

Akun @KawanuaProAhok menulis, “Ternyata Istiqlal sepi. Awas warga Jkt jgn terprovokasi berita hoax #nggakikutdemo.”

https://twitter.com/KawanuaProAhok/status/794239433906081792

Akun @Joe_Lumelle mengingatkan, “awas ati2 banyak yg hobby fitnah. pinter2 pake medsos. kalo liat link berita dibaca, liat sumbernya kredibel gak.”

https://twitter.com/joe_lumelle/status/793341742317645824

Semangat menangkal hoax dan mendinginkan suasana yang memanas pada saat aksi unjuk rasa, bahkan telah mendorong para pengguna media sosial menyebarkan pesan-pesan damai, poster, dan meme.

Akun @GunRomli milik Mohamad Guntur Romli yang dikenal sebagai pendukung Ahok menulis, “Saya #NggakIkutDemo krn saat Ahok diserang Al-Maidah 51 wkt Pilgub Babel, Gus Dur menetralisir dgn al-Hujurat 13. Al-fatihah unt Gus Dur.”

https://twitter.com/GunRomli/status/794216644813828097

Akun @newsaedong menyatakan, “Jika kamu membenci orang yang berbeda Agama dengan kamu. Berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah tapi Agama. Gus Dur ~ #NggakIkutDemo.”

https://twitter.com/newsaedong/status/794103339277492224

Sedangkan akun @dyahayu21 menyatakan, “Boleh demo tapi yang bijak pakbapak disana… #JakartakuDamai.

https://twitter.com/dyahayu21/status/794395517627219968

Akun @asevmuslimovic menulis, “Nongkrong belakang rumah #nggakikutdemo.

https://twitter.com/asevmuslimovic/status/794361775688814592

Sempat muncul juga tagar parodi #BakalIkutDemo yang sempat masuk daftar Trending Topic untuk mendinginkan linimasa.

Salah satunya ditulis oleh akun @CicihMel, “#BakalIkutDemo kalo yg didemo mereka yg upload foto captionnya “gendutan” padahal badannya udah kaya lidi @bayu_joo @daraprayoga_.

https://twitter.com/CicihMel/status/793780209136783360

Akun @oktorairahadi menulis, “#BakalIkutDemo kami bersatu pasti hadir.”

https://twitter.com/oktorairahadi/status/793808599919177729

Dari fenomena ini terlihat bahwa meski hoax masih terus beredar, terutama pada peristiwa besar, publik sudah jengkel dan mulai menolaknya. Mereka tak mau terkecoh oleh informasi yang menyesatkan dan menebar kepanikan.

Ini seperti yang ditulis akun @ariston_boy, “Kita rakyat sudah cerdas,tidak akan mudah terprovokasi dengan isu murahan” #JihadGwKerja

https://twitter.com/ariston_boy/status/793989623605264384

Media sosial adalah berkah sekaligus musibah. Ia berkah bagi orang-orang yang membutuhkan informasi, sekaligus musibah karena mengakibatkan penggunanya kebanjiran informasi. Banjir informasi melahirkan residu yang dikenal dengan sebutan hoax. Diperlukan kedewasaan dan literasi yang baik agar publik mampu menahan diri agar tak mudah membagikan hoax yang menyesatkan dan memicu kepanikan.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *