Tahun politik 2014 yang lalu menyaksikan hadirnya sebuah platform teknologi anyar di tengah puluhan media daring yang sudah meramaikan jagat maya. Inilah IDN Times, media berbasis daring yang dibangun  Winston dan  William Utomo yang tergabung dalam IDN Media. Jargon ‘The Voice of Millennials and Gen Z’ menjadi kalimat ikoniknya.

Generasi Y, atau yang lebih dikenal dengan generasi milenial, terus menjadi perbincangan dalam berbagai industri, tidak terkecuali media massa. Berbagai sektor seakan-akan berlomba menggaet kaum milenial ini. Tetapi, tanpa disadari, generasi Y yang termuda kini sebenarnya sudah menginjak usia 24 tahun dan perhatian pun mulai beralih kepada Generasi selanjutnya, generasi Z. Industri kini mencoba mencari pola perilaku generasi Z yang masih perlu terus dicermati.

Yang jelas, baik milenial maupun generasi Z ini dikenal dinamis tetapi juga cepat bosan. Membanjirnya isu dan informasi, baik di media sosial maupun di media massa, menjadikan kedua generasi ini gamang dalam mencerna inti permasalahan dengan tepat. Bahkan, menurut Uni Lubis, selaku pemimpin redaksi IDN Times, generasi ini tidak hanya mengakui term jurnalistik yang populer dalam generasi sebelumnya, yakni “bad news is good news” tetapi juga percaya bahwa “good news is good news”.

Rupanya, milenial dan generasi Z cenderung terlihat menyukai segala jenis berita. Bukan saja berita feature maupun artikel yang dikemas ringan, tetapi juga isu-isu yang lebih berat seperti  politik, kriminal, maupun ekonomi. Namun, untuk dapat menyasar mereka dengan tepat, dibutuhkan kiat-kiat khusus. Seperti halnya bagi brand manapun, untuk dapat menggaet sasaran yang tepat diperlukan kemasan yang disesuaikan dengan pasar yang dituju.

Apabila milenial masih mengalami sedikit pengaruh konvensional, maka generasi Z lahir di dunia dengan teknologi yang mumpuni. Hal ini pula yang mempengaruhi bagaimana mereka memperoleh informasi, mulai dari sosial media yang banyak memanfaatkan influencer  maupun dari media massa dapat diakses dengan cepat dan mudah.

Tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk dapat menonjol di antara kerumunan media daring yang ada saat ini. Uni Lubis mengatakan, mereka memiliki cara khusus untuk menyasar pasarnya. Menurutnya, selain menyukai berbagai macam jenis berita, milenial dan Gen Z juga diterpa ‘tsunami informasi’, sehingga tidak banyak waktu bagi mereka menyerap bermacam berita. IDN Times pun menerapkan pola listicle, yakni menjabarkan isi berita dengan sejumlah poin utama agar informasi dapat ditangkap secara cepat dan efisien.

Jenis berita yang juga digemari milenial dan Gen Z, menurutnya, adalah explainer, inspiring story, dan tips. Uni menjabarkan, dalam jenis berita explainer penjelasan lengkap tentang hal-hal mendasar akan mampu membantu menjawab berbagai pertanyaan milenial dengan efektif. Sedangkan, sudut pandang seseorang yang dikemas dalam kisah inspiratif seperti cerita mendirikan usaha atau startup, juga kerap disukai milenial. Begitu pula dengan tips ringkas yang dapat diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari. Berita-berita tersebut juga harus disajikan dengan visual menarik, baik dalam bentuk foto maupun video yang dapat membantu menyampaikan informasi lebih detail.

Untuk memenuhi kebutuhan informasi para milenial dan Gen Z, berita yang keluar dari dapur redaksi IDN Times harus memiliki standar mutu yang baik. “Prinsip kami adalah fokus, speed and quality,” ujar Uni.

Yang dimaksud Uni dengan fokus, adalah bahwa walaupun IDN Times dapat mencakup banyak isu, namun tidak semuanya harus dibeberkan. Begitu juga dengan kecepatan yang harus dimiliki media daring saat ini. Walaupun kecepatan merupakan salah satu faktor utama, mutu yang baik tak kalah pentingnya. Media daring harus menyajikan berita secara cepat, namun tetap melalui proses verifikasi. IDN Times juga menghindari clickbait atau judul berita yang tidak sesuai dengan isi konten. Sebaliknya, mereka berupaya konsisten membuat berita yang clickworthy. Hal ini penting mengingat sifat milenial dan Gen Z yang cepat menyerap fakta dan melakukan pencarian kebenaran yang lebih dalam, bahkan sifat ‘investigatif’ sepertinya muncul di dalam diri kedua generasi ini.

Untuk membentuk identitas yang terfokus pada milenial dan Gen Z, para karyawan IDN Times pun didominasi oleh generasi tersebut. Mayoritas pekerja, yang berjumlah 270 orang, berusia 27 tahun. Menurut Uni, bekerja dengan milenial juga memiliki tantangan tersendiri. Untuk menghadapinya, IDN Times memiliki sejumlah kiat khusus, yakni dengan tetap mengombinasikan tekanan kerja dengan kenyamanan. Suasana kantor pun dibuat menyenangkan dan nyaman dengan keberadaan fasilitas untuk beristirahat dan bersantai.

IDN Times lebih senang disebut sebagai platform daripada perusahaan media. Sebuah Platform teknologi penyedia konten yang dihadirkan dengan mutu terbaik dan berlandaskan kode etik jurnalistik di tengah maraknya berita-berita hoax.

Lalu, bagaimana Uni Lubis sebagai ‘kapten’ dapur redaksi IDN Times membawa sosok baru media daring ini ke masa depan?

“Saya ingin, IDN Times menjadi Think Tank-nya milenial Indonesia,” ujar Uni.

Demi mempertajam fokus konten mereka, IDN Times juga melakukan sejumlah riset dan membangun pangkalan data untuk menangkap perilaku milenial Indonesia. Hal ini, dirasa efektif untuk dapat menyajikan artikel dengan sumber terpercaya yang dapat menyasar pasar yang tepat pula.

Simak selengkapnya perbincangan tim Maverick bersama Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times dalam People Behind The News:

Ditulis oleh Shinta Angriyana, Associate Media Outreach

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *