Di tengah lesunya bisnis media cetak di Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menaikkan standar upah minimal bagi jurnalis pemula di ibu kota menjadi Rp7.963.949 juta pada 2018, dari sebelumnya Rp7.540.000. Apakah penetapan upah baru ini akan membuat pemilik media menaikkan gaji jurnalis pemula? Apakah upah berpengaruh terhadap kinerja dan kualitas jurnalistik?

journalist interview journo

Upah layak bulanan (take home pay) wartawan pemula ini ditentukan berdasarkan hasil survei terhadap sejumlah kebutuhan jurnalis di Jakarta, di antaranya pangan, tempat tinggal, sandang, dan kebutuhan lain, seperti pulsa, internet, dan cicilan laptop.

Survei dilakukan terhadap 29 media Indonesia dan 2 media asing pada Desember 2017. Dari survei tersebut terungkap bahwa mayoritas media di Jakarta belum memberikan upah ideal kepada para jurnalis pemula, memiliki masa kerja antara 0 – 3 tahun. Beberapa di antaranya bahkan masih menggaji jurnalis di bawah upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta. Hanya Kompas, BBC Indonesia, dan Reuters yang memberikan upah di atas jumlah ideal. Gaji wartawan pemula di Kompas Rp8,7 juta, di BBC Indonesia Rp15 juta, dan Reuters Rp12 juta.

Bagi AJI, para jurnalis seharusnya mendapat upah layak untuk menjaga kualitas jurnalistik. Dengan upah yang layak, jurnalis dapat memiliki kesejahteraan hidup untuk dirinya dan keluarga. Jurnalis yang sejahtera diharapkan akan mampu menolak suap yang dapat merusak independensi jurnalis dan media.

Jurnalis juga sebaiknya mendapat upah layak karena mereka umumnya bekerja di lapangan melebihi jam kerja normal. Jurnalis di era digital juga dituntut bekerja multitasking dan multiplatform, terutama mereka yang bekerja di media online.

Masalahnya, persaingan di industri media sangat ketat. Indonesia adalah negara dengan jumlah media terbanyak. Menurut data Dewan Pers, jumlah media di Indonesia 47.000, terdiri dari 2.000 media cetak, 43.000 media daring (online), 674 media radio, dan 523 media televisi. Sedangkan jumlah wartawan diperkirakan lebih dari 80 ribu.

Jumlah pembaca dan pendapatan iklan media cetak cenderung turun terus. Pada 2015 oplah koran tinggal 8,79 juta eksemplar, turun 8,9 persen dari tahun sebelumnya, dan lebih kecil dibanding total oplah pada 2011.

Merosotnya oplah harian sejak 2015 dialami juga oleh media mingguan, tabloid, dan majalah. Penurunan paling dalam menimpa mingguan. Pada tahun itu, tirasnya turun 9,27 persen dibanding tahun 2014. Pendapatan mereka pun otomatis menurun. Akibatnya, banyak media terpaksa gulung tikar. Media yang masih bertahan banyak yang kesulitan memberi jurnalis upah yang layak.

Di lain pihak, AJI tak kuasa memaksa karena organisasi profesi ini tak memiliki wewenang dan kekuatan hukum untuk menekan pemilik media agar memberi upah yang layak. Hal yang paling mungkin dilakukan AJI adalah mengimbau atau menegur para pemilik media yang masih memberi upah di bawah UMP, karena hal tersebut jelas melanggar ketentuan Kementerian Ketenagakerjaan.

Bagaimana para pengelola media dan organisasi profesi jurnalis akan menemukan jalan tengah atas dilema itu, layak untuk ditunggu kelanjutannya. [Ditulis oleh Mira Febri Mellya]

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *