Sebuah media baru telah lahir, The Conversation edisi Indonesia. Terbit perdana 6 September 2017, media alternatif ini tampil berbeda dari media umumnya. Para penulisnya bukan jurnalis profesional. Sudut pandang dan gaya penulisannya pun khas.

the conversation

Seperti apakah gaya jurnalisme yang diusung The Conversation?

Maverick menemukan The Conversation ketika mengumpulkan berita tentang aplikasi transportasi daring. Dari sekian banyak tulisan yang membahas “permainan harga” antarpenyedia layanan transportasi online, kami justru menemukan sebuah tulisan dengan perspektif lain, “hubungan perusahaan aplikasi dan mitranya”. Artikel tersebut bukan karya jurnalis ataupun pekerja media, namun mahasiswa Ilmu Politik tingkat doktoral.

Sudut pandang dan gaya penulisan rtikel yang unik itu membuat kami tertarik untuk berkenalan lebih jauh dan menggerakkan kami mengunjungi kantor redaksi The Conversation yang ternyata masih satu atap dengan AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kami disambut oleh Editor The Conversation, Prodita Sabarini, dan Manajer Pengembangan Khalayak, Ikram Putra. Dari merekalah kami mengetahui bahwa media tersebut “berbeda” dengan media yang lain, para kontributor (penulis) harus berasal dari kalangan akademisi, seperti dosen, peneliti, maupun mahasiswa tingkat doktoral.

prodita sabarini
Prodita Sabarini, editor The Convesation.

Pertama kali terbentuk tahun 2011 di Melbourne, The Conversation dirintis oleh mantan Chief Editor The Age, Andrew Jaspan, yang memiliki kekhawatiran akan semakin berkurangnya jumlah wartawan dan industri media yang terus menurun. Dengan jumlah yang semakin sedikit, para jurnalis tetap dituntut untuk dapat memahami semua hal dari lintas industri.

Andrew, yang saat itu juga sedang mengambil fellowship, kemudian menyadari bahwa sebenarnya dunia akademik memiliki stok sumber daya penulis dengan bidang keahlian yang ditekuni masing-masing, selayaknya di sebuah ruang redaksi.

Sayangnya, para peneliti tersebut terbiasa untuk membagikan hasil penelitian mereka hanya di jurnal-jurnal ilmiah, sehingga semua penelitian dan pengetahuan yang berguna tersebut terkunci di laci perpustakaan atau meja para akademia saja.

Andrew lalu membuat The Conversation sebagai jaringan media online global yang bertujuan memublikasikan hasil riset dan analisis para akademisi ke khalayak umum.

The Conversation berkembang dan memiliki banyak editor yang tersebar di berbagai negara, yakni Amerika, Afrika Selatan, Inggris, Prancis, Kanada, dan yang terakhir Indonesia.

Misi mereka secara global adalah untuk memberikan akses informasi seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat, melalui sebuah wadah penyebar informasi yang hanya berdasarkan fakta dan realita.

Indonesia dianggap sebagai salah satu pasar penting karena merupakan negara multietnis dan multibudaya, dengan beragam pelajaran yang dapat diambil dan dipetik dari berbagai fenomena yang terjadi.

Perbincangan santai sore itu semakin menarik ketika kami mulai mengulas nilai-nilai yang diusung oleh The Conversation. Salah satunya, The Conversation sangat menekankan transparansi dari setiap informasi yang dipublikasikan, termasuk latar belakang penulis dan afiliasi politiknya.

Kontributor juga wajib mendeklarasikan sumber dana penelitian kepada editor dan pembaca. Jika ternyata ditemukan indikasi yang berbeda dari keterangan yang diberikan, The Conversation tidak segan untuk mencabut kerja sama dengan penulis tersebut.

Setiap kontributor yang akan menyumbang tulisan harus berdiskusi terlebih dahulu dengan tim editorial. Mereka membicarakan sudut pandang dan bagaimana seharusnya sebuah tulisan akan dibuat. Ada proses mentoring oleh editor kepada penulis. Dengan cara tersebut, gaya penulisan semua artikel jadi seragam dan enak dibaca. Pembaca tak mendapat karya akademik, tapi artikel ilmiah populer dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, seperti tagline The Conversation, “disiplin ilmiah, gaya jurnalistik.”

Topik yang diulas di The Conversation beragam, seperti literasi, politik, sains, kesehatan, dan sebagainya. “Tim editorial bisa saja yang menentukan topik dan mencari penulisnya agar tetap aktual,” kata Ikram. Dia menunjuk contoh artikel “Pengepungan LBH Jakarta: akademisi merespons.”

Mengusung Creative Commons License, The Conversation membebaskan setiap artikel yang dipublikasikan untuk dibagikan, atau dipublikasikan ulang tanpa memungut bayaran apa pun. Untuk menjaga kelangsungan operasi, The Conversation mendapat dukungan penuh dari Open Society Foundations dan AIPI.

“Dari OSF kami memperoleh 120 ribu USD per tahun, selama dua tahun,” kata Prodita.

The Conversation berharap nantinya dapat menjadi wadah berbagi yang diisi oleh para akademisi maupun peneliti yang ada di Indonesia. Lebih dari itu, The Conversation berharap dapat menjadi sumber informasi bagi media-media untuk menambah referensi mereka dalam menghasilkan berita.

Akankah jurnalisme ala The Conversation mampu bertahan di tengah kompetisi media online yang ketat? [Oleh: Wynne Wardhani]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *