Internet harusnya membuat dunia lebih terbuka dan melahirkan lebih banyak lagi orang-orang yang bertanggung jawab. Sebuah buku berjudul The Cluetrain Manifesto menyebutkan bahwa internet dapat membuat setiap orang jadi lebih dekat dengan kebenaran. Sekarang pernyataan tersebut terdengar naif.

Apa yang kita lihat akhir-akhir ini adalah kebalikannya. Kita telah beralih ke era post-truth, yaitu sebuah masa di mana keyakinan pribadi lebih mempengaruhi opini publik dibandingkan fakta-fakta objektif. Fenomena ini membuat perhatian kita terus-menerus terjerumus ke hoaks dan berita bohong.

Dalam situasi yang menyedihkan ini, media-media konvensional, baik cetak maupun daring, semestinya dapat menjadi saluran yang tepat untuk menyaring informasi-informasi faktual di tengah gempuran berita bohong.

“Tugas media kini menjadi lebih berat karena setiap informasi yang disajikan harus melewati tahap verifikasi terlebih dahulu,” ungkap Pemimpin Redaksi Liputan6.com Mohamad Teguh saat diwawancarai Maverick untuk People Behind the News.

Mohamad Teguh juga menyampaikan bahwa dulu semua berita disampaikan melalui satu arah, di mana pelaku di industri media bertanggung jawab menjaga kualitas dan distribusi informasi yang disampaikan.

Kini, siapapun bisa memproduksi “berita”, didukung oleh media sosial yang membuat penyebaran informasi semakin cepat, luas, dan tak mengenal jarak. Bahkan ada beberapa media yang dengan ceroboh memberitakan informasi yang bersumber dari media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Sadar akan adanya krisis kepercayaan kepada institusi media yang timbul akibat persoalan ini, Liputan6.com mengambil langkah lebih maju untuk menjadi sumber informasi dan pemberitaan terpercaya.

Pada Agustus 2017, Liputan6.com mendaftarkan diri menjadi bagian dari International Fact-Checking Network (IFCN). Setelah melengkapi semua persyaratan yang ketat, portal berita ini lolos verifikasi pada 2 Juli 2018. Dengan begitu, Liputan6.com menjadi media kedua di Indonesia yang berhasil lolos setelah Tirto.id.

Teguh menjelaskan, awalnya Liputan6.com memperoleh tawaran dari Facebook untuk ambil bagian dalam memerangi hoaks yang tersebar di berbagai kanal media sosial. Untuk menjadi bagian dari gerakan yang diinisiasi Facebook tersebut Liputan6.com harus lolos verifikasi IFCN.

Liputan6.com harus melewati proses panjang untuk memperoleh akreditasi ini. Beberapa proses yang perlu dilakukan di antaranya memberi akses publik ke dokumen legal perusahaan, mengungkap sumber pendanaan, serta menjamin bahwa kebijakan redaksi yang diterapkan tidak berpihak pada kepentingan tertentu.

Liputan6.com bahkan memiliki satu inbox yang didedikasikan untuk menerima semua jenis informasi yang diduga hoaks dan menerima pertanyaan-pertanyaan dari publik. Sejak dibuka, inbox ini telah dipenuhi pengaduan hoaks dari publik. Liputan6.com memiliki sebuah tim yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan periset untuk memverifikasi semua informasi dan aduan tersebut.

Teguh menegaskan, “Saya percaya bahwa memerangi hoaks adalah kewajiban semua orang, bukan hanya tanggung jawab badan-badan pemerintahan, media atau humas, tapi semua orang. Berdasarkan apa yang saya amati, publik telah lebih proaktif dan interaktif untuk melakukan verifikasi informasi. Hal ini terbukti dari kotak masuk CekFakta kami yang dipenuhi berbagai pertanyaan dan informasi dari para pembaca.”

Bahkan dengan semua hal tersebut di atas, perang melawan hoaks masih harus berlanjut dan terdapat tugas yang semakin berat. “Masalahnya adalah orang-orang terkadang percaya pada hal-hal yang ingin mereka percayai, bahkan ketika fakta dengan jelas menyangkal hal tersebut. Kasus hoaks Ratna Sarumpaet menjadi salah satu contoh nyata di mana masih saja ada orang-orang yang percaya bahwa ia dianiaya sekalipun telah ada bukti-bukti autentik dari kepolisian disertai pengakuan dari Ratna sendiri,” ujar Teguh.

Meskipun demikian, Teguh optimis dengan kemampuan Liputan6.com dalam membantu para pembaca lebih dekat dengan kebenaran. “Orang-orang sudah semakin cerdas dan mampu memilih caranya sendiri untuk membedakan mana informasi yang layak untuk dikonsumsi.”

Salah satu caranya adalah dengan memilih sumber pemberitaan yang terpercaya, seperti Liputan6.com. Bukan hanya karena portal berita ini menjalankan proses cek fakta, tetapi juga berani menjamin semua fakta yang mereka sajikan benar-benar fakta yang dapat diverifikasi.

Silakan tengok video wawancara kami dengan Mohamad Teguh di tautan ini.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *