Membangun dan Mempertahankan Kredibilitas Narasumber

(Untuk versi Bahasa Inggris, klik di sini)

“Morning Joe”, acara talkshow populer di MSNBC minggu ini melalui hostnya, Mika Brzezinski mengumumkan memasukkan Kellyanne Conway ke dalam daftar hitam dan tidak akan mengundang lagi penasihat utama Donald Trump tersebut ke dalam acaranya karena tidak kredibel. Conway berkali-kali memberikan pernyataan yang bertentangan dengan Gedung Putih, yang membuat kredibilitasnya diragukan.

MSNBC merupakan stasiun TV kedua yang memasukkan Conway ke dalam daftar hitam. Dua minggu sebelumnya, CNN memutuskan untuk tidak mengundang Conway ke acara State of the Union karena kredibilitasnya yang mulai diragukan.

Conway bukanlah orang baru dalam politik Amerika Serikat dan memiliki reputasi yang baik. Dalam masa kampanye presiden AS beberapa bulan lalu, Conway bertindak sebagai manajer kampanye Trump, dan setelah Trump terpilih Conway diangkat sebagai penasihat presiden. Lalu kenapa kredibilitas Conway bisa turun?

Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, Conway selalu menggunakan istilah “berita palsu” dan “fakta alternatif” untuk mengaburkan fakta yang terjadi. Puncaknya, pada 8 Februari 2017 lalu Conway melakukan endorsement untuk merk baju “IvankaTrump” yang dimiliki oleh putri Donald Trump, dalam suatu wawancara televisi yang disiarkan langsung.

Pernyataan Conway langsung menjadi pembicaraan hangat di Partai Demokrat dan Partai Republik, partai yang mengusung Donald Trump menjadi presiden, yang kompak menyatakan Conway telah melanggar batas sebagai penasihat presiden. Hal ini, meruntuhkan kredibilitas Conway di mata media.

Bagaimana dengan media di Indonesia? Apakah pernah memasukkan narasumber ke dalam daftar hitam? Walaupun tidak seperti media Amerika Serikat yang secara terbuka menyatakan memasukkan narasumber ke daftar hitam, namun sebenarnya setiap media mempunyai daftar orang-orang yang tidak akan diundang ataupun dijadikan narasumber.

Produser Senior Ekonomi Kompas TV, Bima Marzuki, mengatakan Kompas TV mempunyai daftar hitam narasumber yang tidak akan diundang ataupun diwawancarai, namun daftar tersebut tidak untuk dipublikasikan dan menjadi rahasia dapur redaksi Kompas TV. Dalam memilih narasumber untuk diwawancara, Kompas TV selalu mempertimbangkan kredibilitas narasumber, akurasi data, dan ada tidaknya konflik kepentingan pada narasumber tersebut. Kalau hal itu tidak terpenuhi, maka redaksi punya hak untuk tidak lagi mewawancarai narasumber.

Namun Bima tidak menampik, ada beberapa narasumber yang “tidak ada isinya” tapi karena kontroversial tetap diundang karena pertimbangan rating televisi. “Selama narasumber tidak melakukan kebohongan dan menarik bagi penonton,” kata Bima kepada Maverick.

Senada dengan Bima, Ivan Firmansyah, Koordinator liputan news gathering Jakarta TV One, menyatakan stasiun TV-nya pernah memasukkan narasumber ke daftar hitam karena sering memberikan pernyataan tidak sesuai dengan konteks. Namun, untuk menghormati dan menjaga hubungan dengan narasumber, mereka tidak mempublikasikannya.

Menurutnya, untuk menjadi narasumber, khususnya dari kalangan pengamat, ada dua kriteria minimum yang harus dipenuhi, yaitu data penelitian yang valid dan informasi yang belum diketahui oleh publik. Jika terjadi dialog di dalam televisi, narasumber dapat memunculkan fakta-fakta baru yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya komentar dari pemberitaan media.’

Kredibilitas dan tingkat kepercayaan merupakan dua hal penting dalam melakukan bisnis dan para eksekutif harus menguasainya. Inilah mengapa pelatihan media dan jurubicara (spokesperson) diperlukan oleh jurubicara perusahaan-perusahaan untuk menjalin engagement dengan publik ataupun media.

 

Sharing is Caring