“Ke Banyuwangi yuk?”

Hah? Itu yang pertama terucap di mulut saya ketika partner ngajak ke Banyuwani. Sekejap otak saya bekerja keras mencoba mengingat-ingat ada apa di Banyuwangi. Sebelum saya menemukan ingatan saya soal Banyuwangi, dia melanjutkan ajakannya tadi.

“Kamu kan suka Lord of the Rings dan kamu juga udah berkali-kali nonton The Lion King. Makanya aku mau liburan kali ini ke Banyuwangi aja”

HAH! Makin kenceng lah itu kata hah di kepala saya. Banyuwangi, Lord of the Rings, The Lion King ada dalam satu kalimat yang bisa-bisanya diucapkan dia dengan wajar. Daripada saya lebih bingung lagi, langsung aja tanyain aja deh maksudnya tadi.

Dia yang sedang asik mengupas buah naga lalu berhenti dan memandang saya heran, lalu melanjutkan mengupas sambil meminta saya untuk mengecek penerbangan ke Banyuwangi. Wah, penerbangan langsung ternyata, tanpa pikir panjang saya beli.

Mendarat di Banyuwangi.

Ketika mendarat di Bandara Banyuwangi langsung kaget liat bangunannya yang tanpa AC tapi tetep adem. Dinding-dinding terbuat dari sekat-sekat kayu yang membuat udara terus mengalir. Hemat energi dan instagramable banget kalo kata anak sekarang.

Setelah mampir sebentar ke hotel untuk menaruh koper, partner saya berkata “Udah siap ke Raja Ampat?”

Gimana? Baru juga mendarat di Banyuwangi udah ngajak ke Raja Ampat protes saya keras. Dia lalu tertawa dan menarik tangan saya ke mobil tanpa jelasin apapun. Sebagai lelaki yang baik saya hanya nurut dan tidak protes apapun.

Setengah perjalanan dari hotel, kami sampai di Waduk Bajulmati. Waduk yang tidak terpakai dan dijadikan tempat wisata oleh pemerintah daerah setempat. Setelah melewati pintu gerbang, partner saya mencari tempat yang pas untuk foto dan lalu berkata, “Nah kan kayak di Raja Ampat. Anggap aja sekarang kita lagi di sana.

BENER JUGA! Teriak saya dalam hati ketika mengamati lokasi yang dimaksud olehnya. Memang bukan Raja Ampat sih, tapi anggap saja ini KW supernya. Pulau-pulau kecil di tengah waduk, air yang biru, dan langit yang tanpa polusi benar-benar seperti di Raja Ampat sana. Bedanya, di sini ga bisa berenang sih kayaknya, kalaupun boleh kayaknya saya juga tidak berani nyebur

        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Sekarang lanjut ke daerahnya Lion King yuk”

Ketika asik menikmati pemandangan dan melompat di jalanan atas waduk, tetiba partner saya ngagetin dengan ajakannya yang lagi-lagi bikin bingung. Tapi, kali ini saya memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Langsung mengangguk dan menuju mobil.

Setengah jam dari Bajulmati, kami sampai di Baluran. Dari gerbang menuju tamannya cukup jauh, dan kendaraan tidak boleh ngebut karena kadang suka ada hewan liar yang nyebrang. Dalam kasus kami, biawak nyebrang dengan santai di depan kami, untung sempat menginjak rem.

Sekitar 15 menit dari pintu masuk, tibalah kami di padang rumput luas Baluran. Seketika di kepala saya muncul lagu opening The Lion King

“Naaaant ingonyama bagithi babaaaa”

Ya. Hamparan padang rumput gersang yang luas seolah tak bertepi. Benar-benar seperti tempat bermain Simba, Nala, Pumba, dan Timon di The Lion King. Di sini kami tidak diperbolehkan untuk masuk terlalu ke tengah padang rumput. Karena di tengah masih banyak hewan-hewan liar seperti burung merak, rusa, kerbau, banteng, kucing bakau, dan macan tutul. Dan jika makin ke tengah juga takutnya tersesat karena makin susah nemu jalan raya dan sinyal telpon juga hilang.

Pemandu kami bilang, jika kami datangnya sore hari, akan banyak hewan yang muncul di padang rumput ini. Kami di sana jam 2 siang, masih kurang sore, tapi dapat warna biru langit yang sempurna dipadu dengan coklatnya padang luas ini. Sempat melihat keluarga rusa yang sedang asik berteduh di bawah pohon, agak susah dilihat karena warna mereka sama dengan warna rumput kering di sekitar mereka. Sepertinya di sini kita asal foto aja hasilnya akan tetap bagus.

“Ini kalo ditambah Jerapah, gajah, dan singa, bakal benar-benar seperti di Afrika” ujar pemandu kami. Dan mata saya pun makin berbinar-binar bayangin ada Simba di padang luas ini. Cukup lama kami di Baluran ini, mungkin jika masih menggunakan kamera manual, roll film kami akan habis di sini.

            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Masih kuat?” tanya partner saya.

Wajahnya yang berpeluh malah makin terlihat bercahaya di cuaca yang cukup terik ini. Saya jawab masih sambil mengambil handuk buat menyeka peluh di lehernya.

“Sekarang kita ke hutan Lord of the Rings”

SIAP! Jawab saya lantang. Dalam sehari sudah ke Raja Ampat, lalu ke savanah ala di Afrika, dan sekarang menuju hutan Lord of the Rings.

Di perjalanan saya lalu bertanya ke dia, ini hutan Lord of the Rings yang mana? Tempat Frodo ditolong Arwen? Tempat tinggal Lady Galadriel? Hutan di mana Boromir gugur? Atau tempat Merry dan Pippin ketemu Treebeard?

“Dasar Geek!”

teriak partner saya sambil tertawa. Lalu saya disuruh sabar aja, karena dikit lagi toh kami akan sampai di hutan yang dia maksut. Wah susah ini kalo Gemini disuruh sabar.

Sampailah kami di De Djawatan Forest. Disambut deretan pohon trembasi dan jati yang tinggi-tinggi dan lebat. Ini sih hutannya Merry dan Pippin ketemu Treebeard! Ujar saya kegirangan. Tanpa nunggu partner saya turun dari mobil, saya sudah berlari menuju rindangnya hutan Djawatan ini. Kadang saya menatap satu pohon agak lama dan berharap dia bergerak seperti Treebeard di Lord of the Rings. Hasilnya? Tentu saja pohonnya tak bergerak.

Di sini ada banyak lorong pohon yang bisa kita pilih untuk foto. Ada beberapa pohon yang boleh dipanjat, jika mampu manjatnya. Saya tentu saja memilih ingat kekuatan tubuh ini, jadi memilih mengaguminya dari bawah.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu sudah memasuki senja, saatnya untuk pulang. Badan terasa lelah, umur memang ga bohong. Di perjalanan pulang ke hotel, pemandu kami bertanya apakah mau diantarkan ke Kawah Ijen juga. Di sana kami bisa melihat api biru di kegelapan malam, dengan suhu udara di bawah 15 derajat lalu dilanjutkan melihat matahari terbit di tempat tertinggi di Banyuwangi. Tapi kita harus berangkat jam 1 pagi, imbuh si pemandu tersebut. Tidak usah pak, terima kasih. Ujar saya tegas. Penasaran sih melihat api biru, tapi kayaknya badan ini enggan bangun jam 1 pagi dan berjalan di kegelapan sampai puncak tempat melihat api biru itu. Kali ini saya memilih tidur.

Ada banyak tempat wisata lainnya di Banyuwangi yang keren-keren, Alas Purwo, Pink Beach, Teluk Hijau, dan banyak lagi, tapi saya memilih menghabiskan sisa liburan saya di hotel. Karena hotel yang saya pilih ini enak banget tempatnya. Rugi kalo tidak memanfaatkan fasilitas yang disediakan. Lalu kulineran nakan Rawon dan Ayam betutu di sekitaran hotel, lalu berenang di kolam renang yang menghadap pulau Bali. Terlebih lagi, perjalanan ke Banyuwangi ini  dibayarin kantor tempat saya bekerja, Maverick Indonesia, menggunakan fasilitas PDF, Personal Development Fund. Dana yang diberikan Maverick untuk karyawannya yang mau menyoba hal baru yang belum pernah dilakukan. Terima kasih Maverick, saya bisa ke tempat-tempat keren di Banyuwangi.

Oh iya, nama hotel yang saya di Banyuwangi adalah Dialoog

                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Banyuwangi bisa dibilang kota 1.000 wallpaper ga?”

ujar partner saya tetiba ketika di pesawat perjalanan pulang ke Jakarta. Setuju, angguk saya cepat, seolah tiap foto yang dihasilkan di Banyuwangi bisa dijadiin wallpaper yang keren untuk handphone Anda.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *