Seorang pejabat negara kehilangan reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan publik pada satu jam pertama setelah dilantik. Padahal semua faktor itu penting untuk membangun citranya sebagai pemimpin.

Djoko Setiadi BSSN

Apa yang terjadi?

Kemarin, Presiden Joko Widodo melantik Djoko Setiadi sebagai Kepala Badan Siber dan Sandi Negara yang baru. Dalam wawancara dengan wartawan setelah acara pelantikan, Djoko mempersilakan masyarakat membuat kabar bohong atau hoaks selama itu membangun.

“Tentu hoaks ini kita lihat, ada yang positif dan negatif. Saya imbau kepada kawan-kawan, putra-putri bangsa Indonesia ini, mari … Sebenarnya kalau hoaks itu hoaks membangun, ya silakan saja,” kata Djoko. “Tapi jangan terlalu memprotes, menjelek-jelekkanlah, ujaran-ujaran yang tidak pantas disampaikan. Saya rasa pelan-pelan dikurangi,” kata dia.

Pernyataan yang mengesankan bahwa Djoko belum memahami arti hoaks itu kontan memicu kehebohan di media sosial. Hoaks (hoax) adalah kebohongan (kabar bohong) yang sengaja dibuat untuk menutupi atau mengalihkan perhatian publik dari kebenaran, demi kepentingan tertentu.

Warganet pun mempertanyakan arti hoaks membangun yang dimaksud Djoko dengan tagar #HoaxMembangun. Tagar ini sempat menjadi trending topic nomor 1 di Twitter, diikuti frasa “Kepala Badan Siber” di urutan ketiga, menandakan banyaknya warganet yang membicarakan Djoko dan pernyataannya.

Djoko mengaku tak menduga pernyataannya akan menuai reaksi luas dari masyarakat, bahkan dibincangkan di Twitter hingga menjadi trending topic. Djoko memberikan klarifikasi dengan mengatakan bahwa tidak ada hoax yang positif, semua hoax merugikan.

“Ya namanya hoax pasti jelek, itu hanya gimmick. Hanya memancing, tapi (reaksi) teman-teman beda. Tapi maksud saya, mana ada hoax yang membangun, itu kritik,” kata Djoko seperti dikutip Kumparan.

Meski sudah memberikan klarifikasi, sudah muncul kesan bahwa Djoko tak menguasai isu yang justru menjadi pekerjaan yang harus dibereskan oleh lembaga yang dipimpinnya. Ia juga terlihat kagok dan belum terbiasa menghadapi serbuan wartawan pada hari pertama ia menjadi pejabat. Padahal kejadian seperti itu sebenarnya bisa dihindari. Bagaimana caranya?

Wartawan mewawancarai pejabat baru di sebuah lembaga merupakan sesuatu yang lumrah. Memang begitulah tugas wartawan, mencari berita. Dalam wawancara, wartawan bisa mengajukan pertanyaan produktif dan tidak produktif.

Pertanyaan produktif, yang umum-umum saja, diajukan jika wartawan kurang mengenal narasumber, tugas, dan wewenangnya. Narasumber yang tak sedang terlibat dalam sebuah kasus atau menjadi sorotan publik biasanya juga akan mendapat pertanyaan produktif.

Pertanyaan produktif sebetulnya merupakan kesempatan yang bagus bagi narasumber untuk menjelaskan siapa dirinya, rencana, strategi, visi, atau misi lembaga tempat dia bekerja. Narasumber juga berpeluang membeberkan pesan-pesan kunci. Tapi, kesempatan yang bagus seperti itu bisa sia-sia jika narasumber belum menguasai teknik komunikasi dan cara menghadapi awak media.

Oleh sebab itu, penting bagi semua pejabat, maupun calon pejabat, untuk mengerjakan PR sebelum bertemu media. Beberapa hal yang mesti dipelajari itu, antara lain semua hal tentang tempatnya bekerja, termasuk isu aktual, karakter wartawan yang berbeda-beda, peta media, jenis-jenis pertanyaan yang kemungkinan akan muncul, dan sebagainya.

Penting juga belajar tentang apa itu pesan (messages), pembingkaian pesan (framing), dan teknik penyampaian pesan (delivery). Terakhir, melakukan simulasi tanya-jawab. Latihan ini untuk menyiapkan mental agar terbiasa dan tak kehilangan fokus saat di depan kamera dan mikrofon.

Tanpa persiapan seperti itu, bisa-bisa pejabat publik kehilangan reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan pada hari pertama dia menjabat.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *