Pers Indonesia di Era Kabar Bohong

Hoax atau kabar bohong makin merajalela. Tak hanya beredar di media sosial, wabah hoax bahkan sudah menjangkiti media-media yang dulunya dikenal sebagai produk jurnalistik andal dan tepercaya. Bukan hanya sekali dua kali media di Indonesia menerbitkan kabar bohong yang sumbernya dari situs parodi atau palsu.

Bagaimana pers harus bersikap? Fenomena hoax merupakan salah satu isu yang mengemuka pada Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2017. Perayaan puncak hari bersejarah ini dilakukan di Ambon dan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Hoax atau kabar bohong sebenarnya bukan isu baru, tetapi belakangan ini mencuat lagi karena dua hal, panasnya suhu politik dan popularitas media sosial. Di ranah politik, hoax dipakai sebagai bahan kampanye para kandidat untuk menjatuhkan lawannya. Praktik ini dimulai pada masa pemilihan presiden 2014 dan berlanjut di masa pemilihan kepala daerah serentak. Pilkada DKI Jakarta adalah salah satu perhelatan politik yang sangat diwarnai oleh peredaran hoax tentang ketiga pasangan calon.

pexels-photo-199497

Media sosial, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, merupakan kanal informasi yang menjadi lahan subur merebaknya kabar bohong. Hoax beredar dari satu laman ke laman lain, dari satu media ke media lain, dari satu ruang obrolan digital ke ruang grup digital lainnya.

Berita bohong tentu tak boleh dibiarkan terus berkeliaran dan dikonsumsi publik karena berpotensi memicu gejolak sosial dan konflik horisontal. Banyak orang dan organisasi yang juga dirugikan karena dihajar berita bohong. Maraknya hoax bahkan telah mengurangi kepercayaan publik terhadap pers.

Peran pers yang kredibel dan bertanggung jawab sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang. Ini adalah momentum yang tepat bagi pers untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat. Pers harus mampu meluruskan hal yang bengkok, menjernihkan kekeruhan yang terjadi di media sosial, dan tidak lantas ikut larut dan malah memungut isu-isu yang belum terverifikasi di media sosial sebagai bahan berita. Pers wajib tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik, faktualitas, objektivitas, dan disiplin melakukan verifikasi.

 

Selamat Hari Pers Nasional.

Sharing is Caring