Indonesia saat ini sedang menikmati perkembangan industri digital yang pesat, tercermin dari berkembangnya industri startup. Di awal tahun ini, Indonesia berada di peringkat ke-5 untuk negara dengan jumlah startup terbanyak dengan 2.071 startup.

Kehadiran media yang fokus pada industri startup memiliki peran besar di tengah pesatnya perkembangan industri digital di Indonesia. Media-media ini diharapkan bisa memberikan informasi yang akan dapat membantu para pelaku industri startup dalam mengembangkan bisnis mereka.

Salah satunya adalah Tech in Asia, sebuah media komunitas online pelaku startup di Indonesia. Pada 15 Maret lalu, Maverick berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Pradipta Nugrahanto, Editor in Chief Tech in Asia Indonesia. Bagiamana pria yang akrab dipanggil Mas Dipta ini memimpin Tech in Asia? Berikut hasil wawancara kami dengan beliau:

Halo Mas Dipta, boleh ceritakan sedikit mengenai perjalanan karirnya?

Saya bekerja di media mulai dari tahun 2007, setelah lulus kuliah. Pada saat itu saya bekerja di sebuah portal online, lalu sempat bekerja di beberapa majalah dengan latar belakang yang beragam, mulai dari teknologi, game, musik, dan lifestyle. Sampai akhirnya, di tahun 2015 saya bergabung dengan Tech in Asia Indonesia.

Apa yang membuat Mas Dipta menerima tawaran untuk menjadi Editor in Chief Tech in Asia?

Sejak SD kelas 6 saya sudah mulai tertarik dengan teknologi. Sampai kuliah pun di tas saya selalu ada buku atau majalah yang berhubungan dengan teknologi. Barang-barang itu lebih sering ada di tas ketimbang materi-materi kuliah. Hahahahaha…

Di 2015, Tech in Asia datang ke Indonesia, dengan fokus teknologi yang lebih ke arah startup, bukan teknologi end user products. Saat itu saya merasa Tech in Asia memiliki sesuatu yang sangat menarik untuk dieksplor lebih jauh.

Dari managing editor majalah musik, lalu ke Tech in Asia. Apa tantangan terbesar Mas Dipta dalam memimpin Tech in Asia?

Adaptasi terhadap sistem, budaya, dan tim yang berbeda. Di sini kebanyakan adalah anak-anak muda, selayaknya startup pada umumnya. Dan pada saat saya baru bergabung di sini, saya menjadi salah satu yang berumur. Hahahaha. Kebanyakan adalah orang-orang yang baru lulus, dan suka berinovasi dan mencoba hal-hal baru.

Me-manage anak-anak muda cukup challenging. Tapi mereka memiliki semangat, tenaga, dan pemikiran yang masih fresh banget. Mereka juga punya pemikiran yang out of the box, di mana kadang kita tidak terpikir ke arah sana.

Pencapaian apa yang sudah diraih oleh Tech in Asia?

Bicara tentang pencapaian, media lain mungkin akan berbicara mengenai angka, atau hal lain yang berkaitan dengan metrik atau ukuran. Sementara Tech in Asia lebih ke memberikan added value kepada audience, user, dan community. Kita tidak akan berbicara mengenai angka, misalnya website rank, tetapi lebih ke trust, dan bagaimana kita bisa membantu komunitas teknologi dan startup di Indonesia untuk mencapai mimpi dan tujuannya.

Apa cita-cita Tech in Asia dalam lima tahun ke depan?

Saya ingin Tech in Asia bisa mendapatkan lebih banyak converted user, yang bisa mengapresiasi sebuah komunitas agar bisa terus berdiri dan berkembang. Tech in Asia berada di komunitas teknologi untuk mendukung ekosistemnya. Skala ekosistem ini yang ingin kami perbesar. Karena dengan ekosistem yang lebih besar, komunitas akan besar, dan kita akan sama-sama menjadi besar.

Kalau untuk personal?

Untuk personal, saya ingin lebih banyak mengeksplor apa yang akan menjadi tren, karena saya percaya setiap media dan circle kreatif lain harus adaptif terhadap tren untuk bisa bertahan.

Berbicara mengenai tren, apa tekonologi/startup yang akan menjadi tren dalam 5-10 tahun ke depan di Indonesia?

Kita tidak akan bisa menyebut satu nama atau produk jika kita membicarakan tren, karena itu akan sulit. Tapi yang pasti, produk atau layanan yang berorientasi ke user akan memiliki umur hidup yang lebih panjang dari mereka yang sekadar mengejar tren atau profit.

Apakah yang skalanya besar akan bertahan lama? Belum tentu. Apakah yang skala kecil akan cepat mati? Enggak juga. Siapa tahu yang kecil itu bisa mengakomodasi niche market, mereka yang memiliki kebutuhan khusus yang tidak bisa diakomodir oleh market in general.

Apakah Indonesia akan mengikuti tren tersebut?

Mengikuti pasti, tapi yang jadi pekerjaan rumah berikutnya adalah, seberapa cepat penyerapannya.

Bagaimana Mas Dipta memandang peran konsultan PR saat ini?

Berdasarkan pengalaman saya menjadi jurnalis, yang pasti berhubungan dengan konsultan PR. Menurut saya konsultan PR itu penting. Tanpa PR kita (jurnalis) akan cukup sulit untuk menjangkau ke beberapa pihak.

Apa saran/kiat untuk menjadi editor in chief yang baik?

Adaptif, dan cari formula untuk membuat tim yang baik.

Silakan lihat video wawancara kami dengan Mas Dipta di bawah ini.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *