Pertama kali muncul di Indonesia pada November 2016, Vice Indonesia menjadi media baru yang berkembang relatif cepat. Dengan gaya penulisan yang khas dan pilihan berita yang unik, Vice Indonesia berhasil menarik minat anak muda, terutama di kota-kota besar.

Vice Indonesia

Kisah-kisah unik yang pernah diulas, antara lain tentang sosok penerjemah subtitle film-film bajakan yang telah melegenda di Internet, dan pengalaman seseorang yang mencoba ikut memboikot produk-produk yang diserukan orang-orang di media sosial. Bagaimana Vice Indonesia bekerja?

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Vice Indonesia, tim Maverick menemui Redaktur Pelaksana Ardyan M. Erlangga di kantornya, di kawasan Jakarta Selatan.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Pertama kali lahir tahun 1994 sebagai majalah cetak dan situs berita yang fokus pada seni dan budaya, Vice berkembang menjadi Vice Media, perusahaan daring dan penyiaran yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Indonesia menjadi tujuan pertama negara di Asia Tenggara yang dipilih oleh media online dari Kanada itu.

Vice Indonesia meneruskan tradisi dan semangat Vice Media itu, tapi dengan beberapa penyesuaian. Ini seperti peribahasa di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Artinya, meski tetap mengikuti arahan dan gaya Vice Media, Vice Indonesia harus menyesuaikan diri dalam koridor norma dan budaya Tanah Air.

Awak Vice Indonesia terdiri atas 8 staf editorial dan 3 staf penulis, dan 2 kru video. Mereka memproduksi 3 hingga 4 konten yang diterbitkan setiap hari. Meskipun terbilang ramping, Vice Indonesia juga memanfaatkan para kontributor yang tersebar di Indonesia, sehingga kebutuhan terhadap konten tetap dapat terpenuhi.

“Untuk produksi harian, baik teks maupun video yang akan diangkat sudah kami rancang jauh-jauh hari,” ujar Ardyan. “Ritme kerja Vice Indonesia jauh lebih longgar sehingga kami memiliki waktu yang panjang untuk menentukan berita yang lebih baik,” tambahnya.

Ardyan menjelaskan bahwa Vice Indonesia mengutamakan konten yang awet (evergreen). Jenis konten seperti ini dapat dibaca kapan saja, sepanjang waktu. Pilihan ini membuat tim editorial tak perlu berpacu dengan waktu membuat berita kilas.

Bagaimana Vice Indonesia mengarahkan gaya penulisan para kontributor yang berbeda-beda? Komunikasi adalah kunci utamanya. Untuk mengatasi perbedaan di antara para kontributor, tim di Jakarta selalu membuka komunikasi dan bertukar pikiran dengan mereka mengenai gaya baku Vice Indonesia dalam menulis cerita.

Perbedaan yang ada di antara para kontributornya juga tak sedikit menjadi ciri khas yang unik untuk satu cerita dengan cerita yang lainnya di kanal Vice Indonesia.

Vice Indonesia pun dapat dikatakan telah melewati batas-batas pemberitaan melalui perbedaan dibanding media daring lain yang menulis dengan monoton dan hanya memanfaatkan judul bombastis.

Dari anak Jakarta Selatan ke layar kaca

Melalui cerita yang tak biasa, Vice Indonesia mengarahkan segmentasinya ke pembaca di SES A dan secara praktis tetap ingin merangkul segmentasi SES B, C, dan D. Satu hal yang mengejutkan adalah pembacanya yang 70% ternyata adalah pria. Bahkan untuk tema-tema berita yang sebelumnya diprediksi akan dibaca oleh para perempuan, seperti tentang feminism, juga menjadi bacaan pilihan para pengunjung pria di situs ini sehingga Vice Indonesia pun mengakui jika mereka memiliki ciri khas yang maskulin.

Ada satu hal yang menarik dari target pembaca Vice Indonesia di mana ciri khas yang kini melekat dengan kanal ini berkorelasi dengan sesuatu yang berada di luar dugaan Vice Indonesia. Tak sedikit yang mengomentari jika Vice Indonesia memiliki identitas sebagai “anak Jakarta Selatan”. Hal ini diungkapkan sejumlah pembacanya yang melihat jika gaya, tema, dan topik-topik isu yang diangkatnya sangat selaras dengan pergaulan anak Jakarta Selatan. Identitas yang bermata dua.

“Mungkin selain kami berkantor di Jakarta Selatan dan banyak staf yang memang berasal dari Jakarta Selatan, secara tidak langsung di saat brainstorming segala ide dan gaya kami menjadi berbau anak Jaksel,” jelas Ardyan sambil tertawa. “Bahkan kami tidak diidentikan sebagai medianya Jakarta, malah jauh lebih spesifik, Jakarta Selatan dan itu menjadi tugas kami!”

Bisnis dan minoritas

Perbedaan yang menjadi ciri khas Vice Indonesia terus dipertahankan di tengah-tengah ketakutan media terhadap isu-isu sensitif yang dinilai dapat menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Dari perbedaan akan selalu ada perubahan. Menjelang pergantian tahun, Vice Indonesia memiliki rencana yang lebih besar agar dapat menjangkau penikmatnya di daerah lain di luar kota-kota besar. Vice Indonesia berencana untuk bertransformasi menjadi media yang tidak hanya hadir di layar-layar komputer dan ponsel pintar, tetapi juga di layar kaca.

Vice Indonesia akan menjalin kerjasama dengan Jawa Pos TV untuk menyediakan konten televisi yang menarik ditonton. Berkiblat ke format acara MTV yang dulu sempat menjadi tayangan wajib anak muda tahun 90-an di salah satu saluran TV nasional, Vice Indonesia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk strategi lain bagi mereka untuk menjangkau Indonesia.

“Harus dipahami bahwa masyarakat Indonesia masih lebih senang menonton TV, sehingga media ini tetap penting,” ujar Adryan. “Di Amerika Serikat strateginya berbeda, karena media daring di sana dapat menjangkau jauh lebih banyak orang,” katanya.

Masuk ke industri televisi menjadi salah satu cara Vice Indonesia agar tetap bisa bertahan secara bisnis. Tidak heran jika strategi tersebut sejalan dengan tujuan Vice Media untuk bisa menjangkau wilayah-wilayah lain di dunia. Akhir-akhir ini mereka juga baru membuka Vice di Timur Tengah yang akan lebih menekankan pemberitaannya terhadap konflik. Bisnis yang tetap berjalan dengan lancar berarti bermunculannya Voce-Vice lain di berbagai penjuru dunia.

Tetapi tentu saja, Vice Indonesia memahami model bisnis Vice pusat belum tentu sepenuhnya bisa diaplikasikan di sini. Untuk itu, Vice Indonesia tetap memiliki strategi daring lain, yakni membuka kerja sama dengan pihak-pihak yang tertarik melalui sejumlah penawaran. Sebut saja sebagai contoh artikel yang disponsori, kampanye-kampanye pemasaran, dan native ads.

Terlepas dari bentuk dasar Vice Indonesia sebagai bisnis di industri media, mereka menegaskan bahwa kiblat utamanya tidak akan bercermin pada mana yang benar dan mana yang salah. Vice Indonesia tidak akan menyesal jika dicap sebagai media liberal di Tanah Air. Mereka akan tetap berpegang teguh untuk memberikan gagasan yang luas bagi kaum minoritas di Indonesia. [Ditulis oleh: Bambang Ramdhan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *