Permainan Sensorik Dapat Membantu Anak Merasa Lebih Nyaman dengan Makanan

  • Publication date December 04, 2025
  • Last updated December 11, 2025
  • Category Blog

Jakarta, 16 Oktober 2025 – Banyak orang tua saat ini menghadapi kekhawatiran yang sama – anak yang sulit makan, menolak tekstur tertentu, atau tidak menunjukkan minat pada makanan. Meski sering dianggap sebagai masalah perilaku, para ahli menyebutkan bahwa kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eating) sebenarnya mungkin berkaitan dengan cara anak mengembangkan keterampilan sensorik dan motoriknya.

Sebuah artikel tahun 2010 berjudul “Picky Eating Habits or Sensory Processing Issues? Exploring Feeding Difficulties in Infants and Toddlers” mengkaji hubungan antara kesulitan makan dan pemrosesan sensorik. Artikel tersebut menyoroti bahwa sebagian anak mungkin mengalami tantangan makan bukan semata-mata karena preferensi atau perilaku, melainkan karena cara mereka memproses informasi sensorik.

Wawasan ini sejalan dengan filosofi di acara Play-Doh Indonesia, Play-Doh Playdate: Menghidupkan Jajanan Anak dengan Kreativitas Tanpa Batas!. Acara interaktif yang diselenggarakan pada Hari Pangan Sedunia ini mempertemukan orang tua, anak, serta para pakar tumbuh kembang anak. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi bagaimana permainan kreatif yang bersifat taktil (melibatkan indra peraba) dapat mendukung perkembangan sensorik, membangun keterampilan motorik, dan menumbuhkan hubungan positif dengan makanan tanpa adanya tekanan.

Acara ini menghadirkan diskusi bersama Saskhya Aulia, M.Psi., Psikolog Klinis Anak dan Remaja sekaligus Co-founder Tiga Generasi, dan Mentari Puspa Dewi, S.Tr.Kes.OT, Terapis Okupasi Anak dan Pendiri Occupational Child Development Center (OCDC).

Kedua ahli ini menekankan bahwa tantangan seperti picky eating sering kali berawal dari perkembangan fisik dan sensorik anak, bukan berasal sepenuhnya dari masalah perilaku.

“Apa yang terlihat seperti permainan biasa sebenarnya adalah latihan motorik yang sangat penting bagi tangan anak,” ujar Saskhya. “Saat anak-anak menggulung, menekan, dan membentuk Play-Doh, mereka melatih keterampilan motorik halus yang esensial untuk melakukan kegiatan seperti menulis, makan, dan koordinasi sehari-hari. Bentuk permainan sensorik ini juga mendorong asosiasi yang positif dan bebas tekanan dengan makanan, sehingga membantu mengurangi kecemasan saat waktu makan,” tambahnya.

Mentari Puspa Dewi, lebih lanjut menguraikan bahwa banyak tantangan makan terhubung dengan cara anak merasakan stimulasi sensorik.

“Apa yang orang tua sering sebut ‘picky eating’ bisa berawal dari cara sistem sensorik anak memproses tekstur dan sentuhan,” jelasnya. “Aktivitas makan melibatkan banyak indra; perasa, penciuman, penglihatan, dan peraba. Jika seorang anak merasa suatu tekstur yang beragam, ini bukan tentang memaksa mereka untuk makan. Justru, ini tentang membantu mereka mengeksplor sensasi tersebut di lingkungan yang positif dan menyenangkan. Bermain Play-Doh menawarkan cara yang aman dan terstruktur untuk melakukannya, membantu otak dan tubuh beradaptasi dengan nyaman.”

Untuk membawa wawasan ini lebih dekat kepada keluarga di Indonesia, Play-Doh Indonesia juga memperkenalkan ‘Play-Doh Jajanan Anak’, kartu resep kreatif yang terinspirasi dari jajanan kesukaan khas Indonesia seperti cilok, kue cubit, dan es podeng. Aktivitas ini mengajak keluarga untuk merayakan budaya kuliner lokal sambil terlibat dalam permainan sensorik yang imajinatif bersama-sama.

“Tujuan kami adalah untuk menginspirasi momen keluarga yang bermakna melalui permainan kreatif,” kata Andrew Tan, perwakilan dari Play-Doh. “Dengan bahan Play-Doh yang non-toksik serta aman, dan kartu resep Jajanan Anak terbaru ini, kami berharap waktu bermain bisa jadi lebih menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi perkembangan anak.”

Setelah sesi diskusi, para orang tua mengikuti lokakarya interaktif yang dipimpin oleh Mentari Puspa Dewi, di mana mereka mempelajari teknik permainan sensorik sederhana untuk mendukung keterampilan motorik dan kepercayaan diri sensorik anak di rumah.

Acara ini menyoroti bagaimana permainan langsung tidak hanya memupuk kreativitas dan koordinasi motorik, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dalam keluarga yang menjadi sebuah faktor kunci dalam perkembangan holistik anak-anak.

 

Hasbro (NASDAQ: HAS) adalah perusahaan mainan dan hiburan global yang berkomitmen untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi semua anak, penggemar, dan keluarga. Hasbro menghadirkan pengalaman merek yang imersif bagi audiens global melalui produk konsumen, termasuk mainan dan game; hiburan melalui eOne, studio independennya; dan game, yang dipimpin oleh tim di Wizards of the Coast, pengembang game papan atas dan digital pemenang penghargaan yang terkenal dengan waralaba fantasi MAGIC: THE GATHERING dan DUNGEONS & DRAGONS.

Portofolio perusahaan dengan sekitar 1.500 merek mencakup MAGIC: THE GATHERING, NERF, MY LITTLE PONY, TRANSFORMERS, PLAY-DOH, MONOPOLY, BABY ALIVE, DUNGEONS & DRAGONS, POWER RANGERS, PEPPA PIG, dan PJ MASKS, serta merek-merek mitra utama. Selama dekade terakhir, Hasbro secara konsisten diakui atas kewarganegaraan korporatnya, termasuk dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Warga Korporat Terbaik (100 Best Corporate Citizens) oleh 3BL Media dan salah satu Perusahaan Paling Etis di Dunia (World's Most Ethical Companies) oleh Ethisphere Institute. Informasi penting terkait bisnis dan merek secara rutin dibagikan di situs web Hubungan Investor, Ruang Berita, dan saluran sosial kami (@Hasbro di Twitter, Instagram, Facebook, dan LinkedIn).

KONTAK
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Syafira Maharani - [+62 812 8482 2919/ [email protected]]
Konsultan Komunikasi untuk Hasbro di Indonesia

Maverick Indonesia
Author
Maverick Indonesia
News and Views