Shopee, Kuda Hitam E-commerce Indonesia

Platform e-commerce Shopee berhasil memperkuat citranya melalui liputan di media massa dengan jumlah signifikan terutama pada kegiatan kampanye pemasaran dan promosi, berdasarkan laporan Maverick E-commerce Media Insights April-September 2018. Di antara 13 platform e-commerce yang termasuk dalam laporan tersebut, Shopee merebut posisi ketiga dengan 888 pemberitaan, sementara Bukalapak dan Tokopedia memimpin di posisi pertama dan kedua dengan 1.178 dan 1.020 pemberitaan.

Read More

Kisah Inspirasi dari Achmad Zaky dan William Tanuwijaya Angkat Reputasi Perusahaan

CEO Bukalapak, Achmad Zaky, menjadi figur di dunia e-commerce yang paling banyak disebut di media dengan jumlah artikel sebanyak 144, berdasarkan laporan Maverick E-commerce Media Insights periode April-September 2018. Posisi tersebut kemudian disusul oleh Country Brand Manager Shopee Indonesia Rezki Yanuar sebanyak 118 artikel, dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya sebanyak 82 artikel. Hal ini menunjukkan bahwa figur pendiri perusahaan memiliki peran tersendiri dalam pemberitaan mengenai perusahaan.

Read More

Liputan6.com, Fighting Hoax in Indonesia

The Internet was supposed to make the world more transparent and more of us more accountable. Somewhere around when The Cluetrain Manifesto was written there was a feeling, now seeming naïve, that the Internet would help us get closer to the truth.

What we have discovered of late, however, that the opposite has happened and we have somehow been transported into a post-truth world where we are constantly being taken in by hoaxes and fake news.

In this sad state of affairs, the conventional media, whether offline or online, was supposed to be something we can rely on to sift the truth from the falsehoods. But even they are finding this task challenging.

Read More

Liputan6.com Melawan Hoaks di Indonesia

Internet harusnya membuat dunia lebih terbuka dan melahirkan lebih banyak lagi orang-orang yang bertanggung jawab. Sebuah buku berjudul The Cluetrain Manifesto menyebutkan bahwa internet dapat membuat setiap orang jadi lebih dekat dengan kebenaran. Sekarang pernyataan tersebut terdengar naif.

Apa yang kita lihat akhir-akhir ini adalah kebalikannya. Kita telah beralih ke era post-truth, yaitu sebuah masa di mana keyakinan pribadi lebih mempengaruhi opini publik dibandingkan fakta-fakta objektif. Fenomena ini membuat perhatian kita terus-menerus terjerumus ke hoaks dan berita bohong.

Dalam situasi yang menyedihkan ini, media-media konvensional, baik cetak maupun daring, semestinya dapat menjadi saluran yang tepat untuk menyaring informasi-informasi faktual di tengah gempuran berita bohong.

“Tugas media kini menjadi lebih berat karena setiap informasi yang disajikan harus melewati tahap verifikasi terlebih dahulu,” ungkap Pemimpin Redaksi Liputan6.com Mohamad Teguh saat diwawancarai Maverick untuk People Behind the News.

Mohamad Teguh juga menyampaikan bahwa dulu semua berita disampaikan melalui satu arah, di mana pelaku di industri media bertanggung jawab menjaga kualitas dan distribusi informasi yang disampaikan.

Kini, siapapun bisa memproduksi “berita”, didukung oleh media sosial yang membuat penyebaran informasi semakin cepat, luas, dan tak mengenal jarak. Bahkan ada beberapa media yang dengan ceroboh memberitakan informasi yang bersumber dari media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Sadar akan adanya krisis kepercayaan kepada institusi media yang timbul akibat persoalan ini, Liputan6.com mengambil langkah lebih maju untuk menjadi sumber informasi dan pemberitaan terpercaya.

Pada Agustus 2017, Liputan6.com mendaftarkan diri menjadi bagian dari International Fact-Checking Network (IFCN). Setelah melengkapi semua persyaratan yang ketat, portal berita ini lolos verifikasi pada 2 Juli 2018. Dengan begitu, Liputan6.com menjadi media kedua di Indonesia yang berhasil lolos setelah Tirto.id.

Teguh menjelaskan, awalnya Liputan6.com memperoleh tawaran dari Facebook untuk ambil bagian dalam memerangi hoaks yang tersebar di berbagai kanal media sosial. Untuk menjadi bagian dari gerakan yang diinisiasi Facebook tersebut Liputan6.com harus lolos verifikasi IFCN.

Liputan6.com harus melewati proses panjang untuk memperoleh akreditasi ini. Beberapa proses yang perlu dilakukan di antaranya memberi akses publik ke dokumen legal perusahaan, mengungkap sumber pendanaan, serta menjamin bahwa kebijakan redaksi yang diterapkan tidak berpihak pada kepentingan tertentu.

Liputan6.com bahkan memiliki satu inbox yang didedikasikan untuk menerima semua jenis informasi yang diduga hoaks dan menerima pertanyaan-pertanyaan dari publik. Sejak dibuka, inbox ini telah dipenuhi pengaduan hoaks dari publik. Liputan6.com memiliki sebuah tim yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan periset untuk memverifikasi semua informasi dan aduan tersebut.

Teguh menegaskan, “Saya percaya bahwa memerangi hoaks adalah kewajiban semua orang, bukan hanya tanggung jawab badan-badan pemerintahan, media atau humas, tapi semua orang. Berdasarkan apa yang saya amati, publik telah lebih proaktif dan interaktif untuk melakukan verifikasi informasi. Hal ini terbukti dari kotak masuk CekFakta kami yang dipenuhi berbagai pertanyaan dan informasi dari para pembaca.”

Bahkan dengan semua hal tersebut di atas, perang melawan hoaks masih harus berlanjut dan terdapat tugas yang semakin berat. “Masalahnya adalah orang-orang terkadang percaya pada hal-hal yang ingin mereka percayai, bahkan ketika fakta dengan jelas menyangkal hal tersebut. Kasus hoaks Ratna Sarumpaet menjadi salah satu contoh nyata di mana masih saja ada orang-orang yang percaya bahwa ia dianiaya sekalipun telah ada bukti-bukti autentik dari kepolisian disertai pengakuan dari Ratna sendiri,” ujar Teguh.

Meskipun demikian, Teguh optimis dengan kemampuan Liputan6.com dalam membantu para pembaca lebih dekat dengan kebenaran. “Orang-orang sudah semakin cerdas dan mampu memilih caranya sendiri untuk membedakan mana informasi yang layak untuk dikonsumsi.”

Salah satu caranya adalah dengan memilih sumber pemberitaan yang terpercaya, seperti Liputan6.com. Bukan hanya karena portal berita ini menjalankan proses cek fakta, tetapi juga berani menjamin semua fakta yang mereka sajikan benar-benar fakta yang dapat diverifikasi.

Silakan tengok video wawancara kami dengan Mohamad Teguh di tautan ini.

Di Balik Dua Kartu Merah dalam MavFutsal 2018

Ketegangan mulai terasa saat wasit meniup peluit yang menandakan dimulainya pertandingan semi-final antara tim futsal jurnalis Kemenpora FC dengan CNN Indonesia FC.

Kedua tim saling memperebutkan satu tempat di babak final MavFutsal 2018, sebuah pertandingan futsal yang Maverick selenggarakan untuk berbagi kesenangan sekaligus melepas kepenatan teman-teman jurnalis dari rutinitas harian yang padat.

Ketegangan bertambah saat CNN Indonesia FC mampu melesatkan gol pertama ke gawang Kemenpora FC. Menjelang menit-menit penghabisan babak pertama, situasi makin memanas dan kedua tim pun saling menyahut dengan kata-kata yang memancing emosi. Semakin memanas hingga berakhir dengan salah satu pemain Kemenpora FC menampar pemain CNN Indonesia FC. Wasit pun melakukan intervensi dan menghadiahkan dua kartu merah untuk dua pemain yang berseteru.

Hukuman pelanggaran tampaknya belum berhasil mengendalikan suasana karena salah satu pemain justru berteriak: “Habis ini kita ngobrol di luar!”

Read More

Behind the Two Red-Cards in MavFutsal 2018

There was tension in the air when the referee blew his whistle to start the semi-final match between journalist futsal teams Kemenpora FC and CNN Indonesia FC.

At stake was a place in the finals of MavFutsal 2018, a friendly competition that we in Maverick organized to allow our hardworking journalist friends to have some fun and let off some steam from their rigorous schedules.

Steam, however, was building up in the Kemenpora-CNN game after he latter scored the first goal. Toward the last minutes of the first half a heated exchange of words could be heard from players from both sides. This soon escalated, and a Kemenpora Player slapped a CNN player. The referee intervened, stopped the game and issued a red card to both of them.

That didn’t help to cool things down and one of them was heard to have muttered: “After this, let’s have a talk outside!”

Read More

GO-JEK: Going all in or getting away?

GO-JEK is known for shattering conventions and getting away with it. Did it just do this again in the company’s sort of Coming Out Day last week?

It was sort of because on October 11 it joined other companies operating in the more liberal parts of the world to celebrate Diversity, which also falls on LGBTQ Awareness Day. Only instead of going whole hog on it, GO-JEK only mounted an internal campaign among its staff. It put up a gallery in its office displaying the pictures and the stories of its employees who have bravely “embraced freedom, self-acceptance and tolerance”.

The title for this internal campaign was a brave “Going All In” and one of its posters talked about embracing differences, including in sexual orientation. Yet it stopped short of using the acronym “LGTBQ”.

Even so, the campaign seems rather brave and contrarian in Indonesia, which has seen the rise of a noisy, religious Right of late.

But being brave is one thing, being myopic is another.

Read More

My First Footsteps in Three of the Most-Visited Countries in Asia

WorldAtlas.com says that the most-visited countries in Asia are China, Hong Kong, Malaysia, Thailand, and Singapore, sequentially. The reason that I am telling this is because, last May, my Personal Development Fund (PDF) just allowed to leave my footsteps on the three of them, for the very first time, within one journey. Same as the other first-time-experiences that anybody has ever had, what I experienced is memorable, thanks to Maverick. Read More