OCBC NISP President Director Parwati Surjaudaja

Two Women Mark A Glowing Path in Indonesian Banking

In honor of International Women’s Day, we are handing the microphone to two women executives that mark a glowing path as the spokesperson for their respective banks throughout 2018: BRI Director Handayani and OCBC NISP President Director Parwati Surjaudaja.

These two inspiring women made it into the Top 5 Most Featured Banking Executives, according to Maverick Banking Media Performance Report 2018; a report that measures the effectiveness of communication strategy of the top 20 banks in Indonesia by monitoring news in 20 top media as well as social media, such as Twitter and Facebook.

Read More

Pepsi’s New Attitude: “We Are More Than Okurrr!”

When I was studying in Australia, I worked as a part time waitress at a restaurant which only served Pepsi. I used to go around taking orders, and when my customers asked for a glass of soda, I always immediately asked them “Is Pepsi, OK?”

And each time I did that, I felt like apologizing for Pepsi, because I knew that it was Coca-Cola that dominated the cola market, and customers might therefore have a preference for Coca-Cola over other brands.

But looking back at it now, apologizing for offering Pepsi was actually unnecessary. By apologetically asking “Is Pepsi, OK?” the Pepsi brand suffers. It suffers because I, like many other waitresses out there,  am helping to create the perception that the Pepsi brand is inferior and undesirable.

Read More

Nuh-uh-uh to Lalala Fest

Is the Lalala Fest, an annual music festival held in the Orchid Forest near Lembang since 2016, Indonesia’s equivalent of the notorious Fyre Festival, dubbed The Greatest Party that Never Happened?

Perhaps Lalala could not match Fyre in terms of ambition, but what they lacked in international scale they made up with equally egregious promises and responses. But what’s worse for the Lalala organizers is that they had three years to learn from their mistakes – and they failed miserably there.

Since 2016, the Lalala music festival has been promising attendees an enchanting experience for music lovers in the forest. Each year, however, they have failed to deliver on their promise and disappointed its fans instead.

Read More

The Millennial Conscious Consumer

PechaKucha Nights are always quite enlightening and stimulating because you get to learn what various thought and community leaders are up to.

Speakers at the PechaKucha Night Vol 36 on Conscious Consumption pose with DBS Indonesia’s Head of Group Strategic and Marketing Communications Mona Monika (far right). The bank is an active supporter of PechaKucha Night Jakarta.

The last PechaKucha Night, with the theme Consume Consciously was particularly insightful. There were seven speakers, each committed to the 20X20 format of PechaKucha – 20 slides at 20 seconds each to share their ideas.

Read More

Shopee, Kuda Hitam E-commerce Indonesia

Platform e-commerce Shopee berhasil memperkuat citranya melalui liputan di media massa dengan jumlah signifikan terutama pada kegiatan kampanye pemasaran dan promosi, berdasarkan laporan Maverick E-commerce Media Insights April-September 2018. Di antara 13 platform e-commerce yang termasuk dalam laporan tersebut, Shopee merebut posisi ketiga dengan 888 pemberitaan, sementara Bukalapak dan Tokopedia memimpin di posisi pertama dan kedua dengan 1.178 dan 1.020 pemberitaan.

Read More

Kisah Inspirasi dari Achmad Zaky dan William Tanuwijaya Angkat Reputasi Perusahaan

CEO Bukalapak, Achmad Zaky, menjadi figur di dunia e-commerce yang paling banyak disebut di media dengan jumlah artikel sebanyak 144, berdasarkan laporan Maverick E-commerce Media Insights periode April-September 2018. Posisi tersebut kemudian disusul oleh Country Brand Manager Shopee Indonesia Rezki Yanuar sebanyak 118 artikel, dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya sebanyak 82 artikel. Hal ini menunjukkan bahwa figur pendiri perusahaan memiliki peran tersendiri dalam pemberitaan mengenai perusahaan.

Read More

Liputan6.com, Fighting Hoax in Indonesia

The Internet was supposed to make the world more transparent and more of us more accountable. Somewhere around when The Cluetrain Manifesto was written there was a feeling, now seeming naïve, that the Internet would help us get closer to the truth.

What we have discovered of late, however, that the opposite has happened and we have somehow been transported into a post-truth world where we are constantly being taken in by hoaxes and fake news.

In this sad state of affairs, the conventional media, whether offline or online, was supposed to be something we can rely on to sift the truth from the falsehoods. But even they are finding this task challenging.

Read More

Liputan6.com Melawan Hoaks di Indonesia

Internet harusnya membuat dunia lebih terbuka dan melahirkan lebih banyak lagi orang-orang yang bertanggung jawab. Sebuah buku berjudul The Cluetrain Manifesto menyebutkan bahwa internet dapat membuat setiap orang jadi lebih dekat dengan kebenaran. Sekarang pernyataan tersebut terdengar naif.

Apa yang kita lihat akhir-akhir ini adalah kebalikannya. Kita telah beralih ke era post-truth, yaitu sebuah masa di mana keyakinan pribadi lebih mempengaruhi opini publik dibandingkan fakta-fakta objektif. Fenomena ini membuat perhatian kita terus-menerus terjerumus ke hoaks dan berita bohong.

Dalam situasi yang menyedihkan ini, media-media konvensional, baik cetak maupun daring, semestinya dapat menjadi saluran yang tepat untuk menyaring informasi-informasi faktual di tengah gempuran berita bohong.

“Tugas media kini menjadi lebih berat karena setiap informasi yang disajikan harus melewati tahap verifikasi terlebih dahulu,” ungkap Pemimpin Redaksi Liputan6.com Mohamad Teguh saat diwawancarai Maverick untuk People Behind the News.

Mohamad Teguh juga menyampaikan bahwa dulu semua berita disampaikan melalui satu arah, di mana pelaku di industri media bertanggung jawab menjaga kualitas dan distribusi informasi yang disampaikan.

Kini, siapapun bisa memproduksi “berita”, didukung oleh media sosial yang membuat penyebaran informasi semakin cepat, luas, dan tak mengenal jarak. Bahkan ada beberapa media yang dengan ceroboh memberitakan informasi yang bersumber dari media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Sadar akan adanya krisis kepercayaan kepada institusi media yang timbul akibat persoalan ini, Liputan6.com mengambil langkah lebih maju untuk menjadi sumber informasi dan pemberitaan terpercaya.

Pada Agustus 2017, Liputan6.com mendaftarkan diri menjadi bagian dari International Fact-Checking Network (IFCN). Setelah melengkapi semua persyaratan yang ketat, portal berita ini lolos verifikasi pada 2 Juli 2018. Dengan begitu, Liputan6.com menjadi media kedua di Indonesia yang berhasil lolos setelah Tirto.id.

Teguh menjelaskan, awalnya Liputan6.com memperoleh tawaran dari Facebook untuk ambil bagian dalam memerangi hoaks yang tersebar di berbagai kanal media sosial. Untuk menjadi bagian dari gerakan yang diinisiasi Facebook tersebut Liputan6.com harus lolos verifikasi IFCN.

Liputan6.com harus melewati proses panjang untuk memperoleh akreditasi ini. Beberapa proses yang perlu dilakukan di antaranya memberi akses publik ke dokumen legal perusahaan, mengungkap sumber pendanaan, serta menjamin bahwa kebijakan redaksi yang diterapkan tidak berpihak pada kepentingan tertentu.

Liputan6.com bahkan memiliki satu inbox yang didedikasikan untuk menerima semua jenis informasi yang diduga hoaks dan menerima pertanyaan-pertanyaan dari publik. Sejak dibuka, inbox ini telah dipenuhi pengaduan hoaks dari publik. Liputan6.com memiliki sebuah tim yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan periset untuk memverifikasi semua informasi dan aduan tersebut.

Teguh menegaskan, “Saya percaya bahwa memerangi hoaks adalah kewajiban semua orang, bukan hanya tanggung jawab badan-badan pemerintahan, media atau humas, tapi semua orang. Berdasarkan apa yang saya amati, publik telah lebih proaktif dan interaktif untuk melakukan verifikasi informasi. Hal ini terbukti dari kotak masuk CekFakta kami yang dipenuhi berbagai pertanyaan dan informasi dari para pembaca.”

Bahkan dengan semua hal tersebut di atas, perang melawan hoaks masih harus berlanjut dan terdapat tugas yang semakin berat. “Masalahnya adalah orang-orang terkadang percaya pada hal-hal yang ingin mereka percayai, bahkan ketika fakta dengan jelas menyangkal hal tersebut. Kasus hoaks Ratna Sarumpaet menjadi salah satu contoh nyata di mana masih saja ada orang-orang yang percaya bahwa ia dianiaya sekalipun telah ada bukti-bukti autentik dari kepolisian disertai pengakuan dari Ratna sendiri,” ujar Teguh.

Meskipun demikian, Teguh optimis dengan kemampuan Liputan6.com dalam membantu para pembaca lebih dekat dengan kebenaran. “Orang-orang sudah semakin cerdas dan mampu memilih caranya sendiri untuk membedakan mana informasi yang layak untuk dikonsumsi.”

Salah satu caranya adalah dengan memilih sumber pemberitaan yang terpercaya, seperti Liputan6.com. Bukan hanya karena portal berita ini menjalankan proses cek fakta, tetapi juga berani menjamin semua fakta yang mereka sajikan benar-benar fakta yang dapat diverifikasi.

Silakan tengok video wawancara kami dengan Mohamad Teguh di tautan ini.

Di Balik Dua Kartu Merah dalam MavFutsal 2018

Ketegangan mulai terasa saat wasit meniup peluit yang menandakan dimulainya pertandingan semi-final antara tim futsal jurnalis Kemenpora FC dengan CNN Indonesia FC.

Kedua tim saling memperebutkan satu tempat di babak final MavFutsal 2018, sebuah pertandingan futsal yang Maverick selenggarakan untuk berbagi kesenangan sekaligus melepas kepenatan teman-teman jurnalis dari rutinitas harian yang padat.

Ketegangan bertambah saat CNN Indonesia FC mampu melesatkan gol pertama ke gawang Kemenpora FC. Menjelang menit-menit penghabisan babak pertama, situasi makin memanas dan kedua tim pun saling menyahut dengan kata-kata yang memancing emosi. Semakin memanas hingga berakhir dengan salah satu pemain Kemenpora FC menampar pemain CNN Indonesia FC. Wasit pun melakukan intervensi dan menghadiahkan dua kartu merah untuk dua pemain yang berseteru.

Hukuman pelanggaran tampaknya belum berhasil mengendalikan suasana karena salah satu pemain justru berteriak: “Habis ini kita ngobrol di luar!”

Read More